05 March 2020, 04:10 WIB

DPR Pastikan Pembayaran Jiwasraya Mulai Akhir Maret


(Des/E-2) | Ekonomi

KETUA Komisi VI DPR Faisol Riza pastikan pemerintah akan tetap pada komitmen untuk membayar klaim polis nasabah Jiwasraya fase pertama pada akhir Maret ini. Hal itu diungkapkannya berdasarkan laporan Kementerian BUMN dalam diskusi terakhir bersama Komisi VI DPR.

"Kalau berdasarkan laporan BUMN ke kami, sudah siap. Tapi saya kira tunggu akhir bulan Maret, ya," ungkapnya di Jakarta, kemarin.

Laporan Kementerian BUMN itu, sambungnya, sudah mencakup skema pembayaran yang akan dilakukan. Dalam skema itu, pembayaran akan dilakukan beberapa fase agar bisa berjalan cepat dan juga tidak memberatkan keuangan pemerintah.

"Kita sudah dapat skemanya, sudah disampaikan dan sudah dibahas. Kita juga ada beberapa usulan supaya disempurnakan, supaya beban kepada negara tidak terlalu berat," lanjut Faisol.

Meski tak membeberkan perincian besaran yang akan dibayarkan, Faisol mengakui akan ada beberapa negosiasi yang dilakukan agar win-win solution.

"Saya belum lihat secara detail. Skemanya sudah dilihat, tapi sampai berapa besarannya, saya belum tahu. Yang pasti, mereka harus bayar sesuai jatuh tempo. Kan mereka negosiasi dulu dengan pemegang polis. Saya rasa sekarang ini lagi proses negosiasi. Mungkin sampai puluhan miliar rupiah," pungkasnya.

Utang klaim Jiwasraya per 17 Februari 2020 telah mencapai Rp16,7 triliun. Jumlah tersebut meningkat dari total utang klaim pada akhir 2019 senilai Rp12,4 triliun.

Tekanan likuiditas Jiwasraya saat ini didominasi utang klaim saving plan yang mencapai sekitar 97% dari total polis atau senilai Rp16,3 triliun bagi 17.370 pemegang polis. Selain itu, Rp400 miliar sisanya merupakan utang klaim polis tradisional dari 3.587 pemegang polis korporasi dan ritel.

Jiwasraya juga mencatatkan total liabilitas sekitar Rp51 triliun, dengan total aset sekitar Rp22 triliun. Alhasil, ekuitas Jiwasraya menjadi minus Rp29 triliun dan risk based capital (RBC) mencapai minus 1.307%. Padahal berdasarkan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), modal minimum (RBC) yang harus dipenuhi perusahaan asuransi, baik umum maupun jiwa, ialah 120%.

RBC adalah rasio solvabilitas yang menunjukkan kesehatan keuangan perusahaan asuransi. Kian besar RBC, kian sehat pula kondisi finansialnya. Untuk mencapai nilai RBC sampai 120%, jumlah dana yang dibutuhkan Jiwasraya sebesar Rp32,89 triliun. (Des/E-2)

BERITA TERKAIT