05 March 2020, 03:50 WIB

Pemain Gelap Panasi Hubungan NU-Muhammadiyah


MI | Nusantara

ANGIN sejuk ditiupkan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Yogyakarta. Mereka tidak ngotot menggelar peringatan Hari Lahir ke-94 NU di Masjid Gedhe Kauman.

“Demi menjaga keharmonisan masyarakat, kami memindahkan lokasi acara ke Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta. Bagi NU, segala kegiatan tidak akan bermakna jika dicederai dengan pertikaian,” ungkap Ketua Tanfidziyah NU Kota Yogyakarta, Yazid Afandi, kemarin.

Hubungan harmonis antara NU dan Muhammadiyah di Yogyakarta, sempat menghangat, sepekan terakhir. Seperti diungkapkan Ketua Pengurus Wilayah GP Ansor DI Yogyakarta M Syafiuddin Al Ghazalie, persoalan bermula dari rencana penyelenggaraan hari jadi, pada 5 Maret di Masjid Gede Keraton. Setelah mengajukan izin, PCNU mendapat lampu hijau tertulis dari Keraton Yogyakarta, pada 12 Februari.

Sebelumnya, NU Yogyakarta juga sudah bersilaturahmi kepada pengurus Forum Umat Islam, Muhammadiyah, takmir masjid Gede, dan Keraton Yogyakarta. Semua mendukung acara.


Namun, pada 27 Februari, Pemuda Muhammadiyah Kota Yogyakarta mengirim surat. Mereka meminta agar acara dipindah ke lokasi lain. Di media sosial, penolakan meluas. Spanduk penolakan bertebaran di kampung kauman. Bahkan, pada 28 Februari, perwakilan warga dari empat RW di Kauman, juga membuat surat pernyataan menolak.

NU juga bergerak cepat, menanggapi penolakan itu. Dasarnya tidak ingin kondisi kurang harmonis itu berlarut-larut. “Kami sudah memutuskan untuk memindahkan peringatan pada 27 Februari,” lanjut Yazid.

Perpindahan lokasi dari Masjid Gedhe Kauman ke UNU, tegasnya, seharusnya sudah tuntas dan tidak ada masalah. Namun belakangan muncul
sejumlah pernyataan dan anggapan bahwa NU tidak tepo seliro. Bahkan di media sosial, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Sunanto dibawa-bawa dengan permintaan untuk melakukan apel akbar dan siaga adanya ancaman keamanan.

Kemarin, Sunanto membantah kabar itu. “Saya tidak pernah menyatakannya.”

Menurut dia, ada orang-orang tertentu yang ingin mengadu domba antara NU dan Muhammadiyah. Mereka tidak ingin melihat kedua ormas besar di Indonesia ini rukun. “Ada yang senang kalau Ansor dan Pemuda Muhamamdiyah berperang.”

Pemuda Muhammadiyah, lanjutnya, menyadari NU dan Muhammadiyah merupakan ormas yang harus bersama-sama bergandengngan memajukan bangsa. Untuk itu, ia telah meminta pihak Pemuda Muhammadiyah DIY  menjaga toleransi dan menjaga silaturahmi.

“Kita ini sama-sama satu guru. Sekarang saatnya membangun Indonesia yang damai dan toleran. Itu prinsip yang tidak boleh dilanggar,” tegasnya. (FU/AT/N-2)

BERITA TERKAIT