05 March 2020, 01:50 WIB

Nadiem Makarim Lebih Produktif tanpa Medsos


Usman Kansong | Hiburan

NADIEM Makarim, 36, boleh, bahkan mesti sadar media sosial (medsos) ketika dulu menjadi CEO Go-Jek, perusahaan yang menggunakan teknologi digital. Namun, ketika menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem merasa perlu puasa bermedsos. "Saya sudah sekitar dua setengah bulan tidak main medsos," katanya saat menerima rombongan Media Group di Jakarta, kemarin.

Menurut Nadiem, puasa bermedsos bisa meningkatkan produktivitas. "Saya merasakan saya lebih produktif kira-kira 30%," ujar Mas Menteri Nadiem, begitu ia ingin dipanggil.

Nadiem berpendapat puasa medsos baik untuk kesehatan fisik dan mental. Tanpa medsos, katanya, orang berpikiran lebih positif dan rasional. "Kita jadi bisa bikin keputusan yang tidak reaktif," ucapnya.

Mengambil keputusan secara tidak reaktif, menurut Nadiem, sangat penting bagi seorang pemimpin atau eksekutif yang kerja utamanya mengeksekusi. Pempimpin bisa mengambil keputusan secara merdeka, independen, dengan tetap mendengar masukan dari orang-orang yang benar, bukan dari keriuhan suara warganet di medsos.

Nadiem senantiasa menjaring dan menerima masukan dari para dirjen untuk mengambil keputusan. Setiap hari dia berdiskusi dan berdebat dengan para dirjen. Makin baik bila para dirjen bilang tidak daripada selalu bilang ya alias yes men. "Saya justru curiga kalau semua setuju. Karena itu, ukuran kinerja dirjen berdasarkan berapa banyak protes kepada saya," ungkap Nadiem.

Dirjen tidak boleh hanya setuju karena Nadiem berpandangan selama ini telah terjadi miskonsepsi bahwa pemerintah, eksekutif, atau pemimpin harus benar. Itu artinya pemimpin bisa saja salah. Keharusan benar tersebut, menurut Nadiem, menyebabkan orang takut salah sehingga tidak berbuat. "Konsepsi harus benar itu membelenggu kita sehingga kita tidak mau mencoba hal-hal baru, enggan berinovasi," ujar lulusan Master of Business Administration di Harvard Business School tersebut.

 

Termuda

Nadiem yang dilantik Presiden Jokowi sebagai Mendikbud pada 23 Oktober 2019 merupakan menteri termuda dalam Kabinet Indonesia Maju. Ia memulai karier sebagai konsultan manajemen di McKonsey & Company, kemudian bergabung mengembangkan Zalora Indonesia.

Namanya mulai menarik perhatian ketika ia mendirikan perusahaan transportasi Go-Jek. Ia mengaku terinspirasi mendirikan layanan berbasis sepeda motor karena ia merupakan pengguna setia ojek. Ojek menjadi andalannya untuk menembus lalu lintas Jakarta yang macet.

Nadiem mengatakan, aplikasi Go-Jek memudahkan konsumen untuk mendapatkan layanan tukang ojek dengan harga yang transparan, sedangkan para pengojek dimudahkan mendapatkan pelanggan tanpa harus mangkal selama berjam-jam.

"Salah satu masalah yang dihadapi berkaitan dengan tukang ojek ini ialah market inefficiency. Antara demand dan supply enggak klop. Ini masalah yang hanya bisa diatasi dengan teknologi," terang Nadiem kepada Media Indonesia pada 2015.

Sukses mengembangkan Go-Jek menjadikan Nadiem mendapatkan penghargaan bergengsi. Pada 2018, Nadiem masuk daftar Bloomberg 50 Most Influential. Ia meraih penghargaan Nikkei Asia Prize ke-24 untuk Inovasi Ekonomi dan Bisnis dan menjadi orang termuda yang menerima penghargaan tersebut.

Setelah menjadi Mendikbud, Nadiem memutuskan mundur dari posisinya sebagai CEO Go-Jek, startup decacorn yang memiliki valuasi lebih dari US$10 miliar. (H-3)

BERITA TERKAIT