04 March 2020, 17:16 WIB

Pembayaran Jiwasraya Fase Pertama Dilakukan Akhir Maret


Despian Nurhidayat | Ekonomi

Pemerintah akan melakukan pembayaran fase pertama kepada nasabah Jiwasraya pada akhir Maret 2020. Fokus utama pembayaran adalah para pemegang polis.

"Kalau berdasarkan laporan (Kementerian) BUMN ke kami sudah siap. Tapi saya kira tunggu akhir bulan Maret ya," ungkap Ketua Komisi VI DPR RI Faisol Riza di Jakarta, Rabu (4/3).

Kepastian itu didapatnya setelah Komisi VI melakukan pembahasan dengan Kementerian BUMN.

Lebih lanjut, Faison menambahkan bahwa skema pembayaran akan dilakukan dalam beberapa fase agar bisa berlangsung cepat dan tidak memberatkan pemerintah.

Dia pun menegaskan pembayaran akan difokuskan pada pemegang polis agar bisa cepat selesai dan tidak mengganggu jalannya bisnis.

"Kita sudah dapat skemanya. Sudah disampaikan dan sudah dibahas. Kita juga ada beberapa usulan supaya di sempurnakan. Supaya beban kepada negara tidak terlalu berat dan bisa berjalan dengan cepat," lanjut Faisol.

Meskipun tidak membeberkan rincian besaran yang akan dibayarkan, Faisol mengakui bahwa akan ada beberapa negosiasi yang dilakukan agar menemukan win-win solution.

"Saya belum lihat secara detil. Skemanya sudah dilihat tapi sampai berapa besarannya belum tahu. Yang pasti, mereka harus bayar sesuai jatuh tempo kan mereka negosiasi dulu dengan pemegang polis. Saya rasa sekarang ini lagi proses negosiasi. Mungkin sampai puluhan miliar," pungkasnya.

Utang klaim Jiwasraya mencapai Rp16,7 triliun per 17 Februari 2020. Jumlah tersebut meningkat dari total utang klaim pada akhir 2019 senilai Rp12,4 triliun.

Tekanan likuiditas Jiwasraya saat ini didominasi oleh utang klaim saving plan yang mencapai sekitar 97% atau senilai Rp16,3 triliun bagi 17.370 pemegang polis. Selain itu, Rp400 miliar sisanya merupakan urang klaim polis tradisional dari 3.587 pemegang polis korporasi dan ritel.

Jiwasraya juga mencatatkan total liabilitas sekitar Rp51 triliun, dengan total aset sekitar Rp22 triliun. Alhasil, ekuitas Jiwasraya menjadi minus Rp29 triliun dan risk based capital (RBC) mencapai -1.307. (E-3)

BERITA TERKAIT