04 March 2020, 12:29 WIB

Indonesia Siap Menjadi Pemasok LNG Global


mediaindonesia.com | Ekonomi

INDONESIA sempat memiliki peran di pasar gas alam cair (LNG) global, sehingga menjadi salah satu eksportir LNG terbesar. Namun, seiring penurunan produksi gas dan kebijakan pemerintah untuk memprioritaskan pasokan gas di dalam negeri, kontribusi Indonesia di pasar LNG dunia mengalami penurunan.

Berdasarkan rencana umum energi nasional (RUEN), produksi gas di Indonesia diproyeksikan terus menurun akibat decline rate alami, yakni 20% per tahun. Sepanjang 2015-2019, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mampu mempertahankan produksi migas di atas target RUEN. Dalam hal ini, melalui optimalization work program untuk mencapai operational excellence.

Baca juga: Produksi Migas Terus Menurun, SKK Migas Dorong Implementasi 4.0

Di antaranya, Filling The Gap (FTG), Production Enchancement Technology (PET), Management Work Through (MWT), hingga Optimisasi Planned Shutdown. Alhasil, produksi gas dapat dipertahankan pada level tinggi sepanjang 2019, yakni 7.254 MMSCFD dan lifting sebesar 5.923 MMSCFD.

Giant discovery gas di Blok Sakakemang pada 2019, serta penyelesaian revisi POD pengembangan Blok Masela, semakin menambah optimisme terhadap masa depan industri hulu migas di Indonesia. Dalam visi bersama hulu migas 2030 dengan target 1 juta BOPD, produksi gas diperkirakan mencapai 12.300 MMSCFD. Dengan begitu, kekhawatiran akan defisit gas pada masa menatang dapat ditepis.

“Selesainya proyek kilang Masela dan proyek utama hulu migas, serta penemuan lapangan migas baru lain, akan menjadikan Indonesia kembali menjadi salah satu produsen gas utama dunia. Hal ini mendukung peningkatan daya saing indsutri dalam negeri, dengan ketersediaan pasokan gas. Serta menjadikan Indonesia berpeluang kembali menjadi pemasok utama LNG dunia," papar Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, saat menjadi pembicara kunci dalam Indopacific LNG Summit Bali 2020, Selasa (3/3).

Baca juga: Proyek LNG Abadi Masuki Tahap FEED

Saat ini, lanjut dia, SKK Migas memiliki empat strategi untuk meningkatkan produksi migas nasional. Rinciannya, mempertahankan tingkat produksi existing yang tinggi, transformasi sumber daya ke produksi, mempercepat chemical EOR dan eksplorasi untuk penemuan besar. SKK Migas mengidentifikasi 12 area yang berpotensi memiliki kandungan migas dalam jumlah besar. Itu tersebar di enam area di Indonesia bagian barat, empat area di Indonesia bagian timur dan dua area di laut dalam.

Dari total produksi gas pada 2019 sebesar 6.140 BBTU, penyaluran dalam bentuk LNG secara keseluruhan mencapai 2.025 BBTU. Adapun alokasi LNG untuk pasar domestik sebesar 508 BBTU dan untuk ekspor sebesar 1.417 BBTU.  

Saat ini, kapasitas kilang LNG di Indonesia sebesar 16 MTPA, yang berasal dari LNG Tangguh sebesar 7,6 MTPA dan LNG Bontang sebesar 8,6 MTPA. Kapasitas kilang LNG akan bertambah menjadi 13,3 MTPA, jika proyek train 3 Tangguh dengan kapasitas 3,8 MTPA dan Abadi LNG (Masela Project) sebesar 9,5 MTPA selesai dibangun. Pasar ekspor utama LNG, yakni Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Thailand dan Taiwan, dipasok dari kilang LNG Badak dan LNG Tangguh.(OL-11)

BERITA TERKAIT