04 March 2020, 11:10 WIB

Stimulus Kedua Diluncurkan, Ini Kata Pengamat


Despian Nurhidayat | Ekonomi


Pemerintah berencana mengeluarkan stimulus kedua guna memerangi dampak virus korona terhadap perekonomian.
Paket kebijakan pertama yang telah meluncur sebelumnya dianggap perlu mendapat dukungan dari stimulus tahap kedua guna mendukung efektivitasnya. Lantas apa kata pengamat menanggapi rencana itu?

Direktur Riset Center of Reforms on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan second stimulus yang berisikan 4 kebijakan pemerintah dalam menanggulangi penyebaran virus korona harus dibarengi dengan pemberian insentif pada industri manufaktur.

Hal ini  penting agar dapat menjadi pemacu industri dalam negeri agar tidak bergantung lagi kepada bahan baku impor. Apalagi jika terjadi kejadian-kejadian yang tidak terduga seperti halnya virus korona ini.

"Selain mempercepat arus barang impor dan juga ekspor, pemerintah perlu memberikan insentif lain agar industri manufaktur terus bergerak bahkan menjadikan momentum kejatuhan Tiongkok ini untuk membangun industri hulu. Dengan demikian kedepannya kita tidak lagi terlalu bergantung kepada bahan baku impor," ungkapnya kepada Media Indonesia, Selasa (3/3).

Lebih lanjut, Piter meyakni  wabah virus korona akan menyebabkan ekspor dan impor Indonesia ke Tiongkok mengalami penurunan. Padahal seperti yang diketahui bersama bahwa ekspor dan impor Tiongkok merupakan salah satu terbesar sehingga dapat diyakini akan berdampak menurunnya total impor dan ekspor Indonesia.

"Pertumbuhan impor dan ekspor di luar Tiongkok tidak akan bisa menutup penurunan dari Tiongkok. Khususnya ekspor ke luar Tiongkok, karena permintaan dari luar juga sedang menurun," lanjut Piter.

Pemerintah Siapkan Stimulus Kedua

Oleh karena itu, menurutnya langkah yang dilakukan oleh pemerintah sudah tepat karena penurunan ekspor dan impor tidak akan terlalu besar. Terlebih untuk membantu industri manufaktur yang bahan baku nya sangat bergantung kepada impor.

Sementara itu, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira merasa bahwa pemerintah sudah melakukan tindakan inkonsisten.

Menurutnya dengan menurunkan 4 kebijakan ini sudah membuat pemerintah menunjukkan penurunan kualitas dari 8 kebijakan sebelumnya.

"Saya rasa kurang tepat pemerintah mempermudah impor masuk. Bukan kah saat ini justru kesempatan bagi pengusaha domestik untuk lakukan substitusi impor. Kita ingin agar korona jadi pelajaran bahwa Indonesia tidak bisa ketergantungan dari barang impor Tiongkok," ujar Bhima.

"Padahal sebelumnya industri yang menjadi subsitusi impor diberikan aneka insentif dalam paket kebijakan. Jadi terkesan pemerintah inkonsisten. Malah menurun kualitasnya," tutupnya. (Des/E-1)

BERITA TERKAIT