04 March 2020, 06:10 WIB

Lindungi Pasien Korona


Andhika Prasetyo | Humaniora

DUA pasien positif terpapar virus korona baru (covid-19) yang kini dirawat di Rumah Sakit Pusat Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta Utara, dalam kondisi baik-baik saja.

Pasien 1 dan pasien 2 itu tidak memerlukan tindakan khusus seperti pemasangan selang oksigen ataupun infus.

Hal itu dikemukakan juru bicara pemerintah untuk penanganan korona, Achmad Yurianto, di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, kemarin.

"Karena tidak sesak dan tidak ada kedaruratan. Keluhan hanya batuk, tidak panas," kata Achmad Yurianto yang lebih akrab disapa Yuri.

Presiden Joko Widodo mengimbau semua pihak terutama rumah sakit dan pejabat menghormati privasi para pasien korona. Itu kode etik dan kewajiban moral untuk menjaga kondisi psikologis pasien.

"Hak pribadi penderita korona tidak boleh dibuka ke publik. Media juga harus menghormati privasi sehingga secara psikologis mereka tidak tertekan dan bisa segera sembuh kembali," ujar Jokowi.

Komisioner Komisi Informasi Pusat Arif Adi Kuswandono menilai publikasi data pasien positif covid-19 berlebihan.

"Menurut saya yang berlebihan di media sosial. Sampai nama, tempat tanggal lahir, alamat, status pernikahan, dan daftar keluarga. Itu melanggar Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik," kata Arif.

Dalam jumpa pers di Istana, Jokowi tidak lupa mengimbau masyarakat agar tidak panik dan beraktivitas seperti biasa. "Sebagian besar pasien yang positif di Tiongkok, Jepang, Iran, Italia, dan beberapa negara lain bisa pulih kembali."

Dalam pertemuan dengan pimpinan media tadi malam, Menlu Retno Marsudi menginformasikan mulai menurunnya penyebaran korona di Tiongkok. Berdasarkan data WHO, kemarin hanya 206 kasus tambahan atau terendah sejak 22 Januari. Dari jumlah itu, 8 terjadi di luar Hubei.

Akan tetapi, di luar Tiongkok, kasus korona justru meningkat, yakni 8.774 kasus, dengan lebih dari separuhnya terjadi di Korea, Jepang, Iran, dan Italia. Hingga kemarin ada empat negara baru terjangkit, yaitu Armenia, Luksemburg, Islandia, dan Indonesia.

 

Hentikan praduga

Terkait dengan dugaan seorang karyawan PT Telkom meninggal di Rumah Sakit dr Hafiz Cianjur disebabkan covid-19, kemarin, Menteri BUMN meminta semua pihak menghentikan segala praduga.

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Menteri BUMN Erick Thohir.

 

"Jangan berspekulasi. Peristiwa ini ditangani pihak yang kompeten. Kami mengapresiasi langkah cepat dan empatik dari PT Telkom," ungkap Erick.

Menurut Achmad Yurianto, pasien itu sempat masuk pengawasan karena mengalami gejala mirip korona. "Tapi dari hasil pemantauan kami, dia termasuk 155 orang yang negatif."

Sementara itu, di Riau dan Banyumas, Jawa Tengah, rumah sakit setempat juga menangani pasien terduga terpapar virus korona.

Dokter di RSUD Dumai, Riau, sedang mengobservasi seorang pasien yang mengalami gejala demam tinggi. Pasien itu mengaku beberapa kali melakukan kontak dengan kru kapal asing di pelabuhan industri Dumai.

Adapun seorang pasien terduga korona di RSUD Banyumas mengalami gejala flu sepulang dari Hong Kong sepekan lalu. (Ifa/Van/Aiw/RK/LD/X-3)

BERITA TERKAIT