03 March 2020, 14:00 WIB

Milenial Ubah Lanskap Bisnis, UMKM Perlu Perkuat Brand


Ghani Nurcahyadi | Ekonomi

GENERASI milenial yang dibekali dengan kemajuan teknologi kini sudah mulai mengubah banyak lanskap bisnis konvensional. Salah satunya dari sisi transportasi dengan makin diminatinya ojek daring di masyarakat..

Pakar Pemasaran Yuswohady mengatakan, ojek daring bahkan sudah menjadi aplikasi super dengan menyediakan banyak layanan, bukan lagi hanya soal antar-jemput penumpang lewat pemesanan melalui aplikasi.

Dia memprediksi pada 2034, dapur akan hilang karena layanan ojek daring. Bila sekarang satu rumah terdapat satu dapur, maka pada tahun 2034 hanya ada satu dapur untuk 1.000 orang.

“Beberapa merk kamera DSLR juga dibunuh milenial karena millenial lebih suka kamera smartphone. Kenapa coffee shop rame karena millenial kerjanya di cafe," ujarnya saat jadi pembicara kunci di Kagama Inkubasi Bisnis VIII di Lampung, akhir pekan lalu.

Lanskap bisnis, lanjut pendiri perushaan kosnultan Inventure itu, akan semakin berubah dan dikuasai permintaan dari milenial dalam lima tahun ke depan. Hal itu menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan usaha mikro kecil dan menengah.

Baca juga : Kaesang Ajak UMKM Pamerkan Produk di Hebat Urban Community

Milenial yang menekankan pada pengalaman pengguna dan lebih senang mengaplikasikan ekonomi berbagi (sharing) harus dihadapi oleh UMKM dnegan memperkuat brand atau merek.

Hal itu terbukti dari digemarinya sejumlah merek oleh generasi milenial, padahal produk yang dijual tak jauh berbeda dengan penyedia produk lainnya.

"Kenapa kafe X ramai diserbu milenial padahal cuma jualan mie instan, karena yang dijual bukan hanya mie instan, tetapi kenyamanan, bisa bekerja bisa internetan gratis," ujarnya.

Di era digitalisasi teknologi, kata Yuswohady, UMKM perlu membangun kekuatan brand untuk memanfaatkan pasar potensial yang ada. Kekuatan brand atas sebuah produk usaha penting sebab saat ini telah ada perubahan konsumsi di masyarakat.

Apalagi di kalangan generasi milenial pergeseran konsumsi masyarakat sangat terasa. Dahulu pola konsumsi berdasarkan komoditas saat ini sudah beralih di era digital yang sangat cepat.

"Dahulu pola konsumsi berdasarkan komoditas saat ini beralih menjadi konsumsi atas sebuah pengalaman, dan kenyamanan contohnya seperti menonton konser, berwisata, perlu kejelian dan perumusan yang baik oleh pelaku UMKM guna memanfaatkan pasar potensial tersebut," tandasnya.

Yuswohady mengimbau agar pelaku usaha harus melek teknologi, serta perumusan yang baik oleh pelaku UMKM guna memanfaatkan potensi pasar.

Baca juga : Pengusaha Milenial Pertanian Tingkatkan Ekonomi Nasional

Ini bisa dilakukan dengan memetakan beberapa hal yaitu dengan menentukan target pasar, posisi pasar, dan kebutuhan konsumen. Melalui pemetaan tersebut UMKM dapat menentukan harga dengan tepat sesuai dengan target pasar.

Selain itu, juga perlu melakukan branding pelayanan atas usaha. Sebab konsumen pada masa kini peduli akan pengalaman yang nyaman. UMKM penting membangun kekuatan brand guna memaksimalkan keuntungan.

"Dengan membangun kekuatan branding diharapkan UMKM  dapat naik kelas dengan memanfaatkan kemudahan atas adanya perkembangan teknologi," tuturnya.

Yuswohady pun mendorong agar pelaku UMKM memanfaatkan media sosial sesuai target pasar yang dibidik.

"Misal kalau pasarnya kaum milenial pakailah instagram. Untuk generasi yang lebih tua pakelah Facebook atau gunakan kombinasi keduanya," pungkasnya. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT