04 March 2020, 05:45 WIB

Best Practices Pendidikan Kebinekaan


IGK Manila Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem | Opini

DENGAN berada di tengah ketertarikan dan keterlibatan yang semakin dalam terhadap pendidikan, saya amat beruntung. Pada 22 Februari lalu, saya menghadiri kegiatan Kenduri Kebangsaan di Sekolah Sukma Bangsa, Biereun, Aceh. Seminggu setelah itu, saya menghadiri ulang tahun ke-24 Sekolah Madania, sekolah Indonesia berkualitas internasional di Parung, Bogor, Jawa Barat.

Kedua lembaga pendidikan yang sudah nasional dan dikenal di dunia internasional itu memiliki beberapa kemiripan yang bukan kebetulan. Di belakang keduanya, tentu saja dalam sebuah jalinan kolaborasi yang melibatkan orang-orang hebat di Indonesia ada benang merah, baik secara perspektif, gagasan, maupun personal.

Prof Komaruddin Hidayat merupakan salah seorang pendiri Sekolah Madania pada 1996. Sementara itu, intelektual muslim yang juga mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini ialah salah satu tokoh yang terlibat pembangunan aspek akademik Sekolah Sukma Bangsa, yang mulai beroperasi pada Juli 2006, sekitar dua tahun setelah Tsunami Aceh.

Di Sekolah Madania, Prof Komaruddin membangun pendidikan berbasis multikulturalisme bersama cendekiawan Prof Nurcholish 'Cak Nur' Madjid dan eksekutif kawakan Achmad Fuadi.

Di Sekolah Sukma Bangsa, pemikiran akademis Prof Komaruddin dipadu dengan konsep-konsep pendidikan yang dikembangkan Yayasan Sukma, yang dikelola dan didukung sepenuhnya oleh Media Group, yang dipimpin oleh tokoh nasional Surya Paloh dan Rerie L Moerdijat.

Meskipun telah terlibat dalam dunia pendidikan sejak era 1970-an--sejak saya menjadi guru militer, Komandan Pusat Pendidikan Polisi Militer (Pusdik Pom), Ketua Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), dan kini sebagai Gubernur Akademi Bela Negara (ABN)--adanya pendidikan sipil yang terbuka, toleran, dan inklusif seperti oase yang menyejukkan.

Bahkan, dengan bolak-balik membaca, mendengar, dan melihat langsung bagaimana Sekolah Sukma Bangsa dan Sekolah Madania dikelola, keyakinan saya tentang masa depan Indonesia berdasar Bhinneka Tunggal Ika yang harmonis semakin teguh.

Pandangan dan keyakinan subjektif saya bukan tanda dasar personal. Saya sendiri ialah orang Indonesia berlatar belakang Hindu-Bali. Namun, sebagai seorang nasionalis yang inklusif, saya membebaskan putra, putri, dan semua cucu untuk memilih keyakinan secara merdeka. Di samping itu, saya juga beristri dan bermenantu keturunan Tionghoa, serta tak terhitung jumlah sahabat saya dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Masa depan Indonesia, dalam pandangan saya sebagai orang tua yang sudah berusia 78 tahun dan telah hidup dalam tiga orde berbeda, ditentukan oleh sejauh mana warga negara ini mempertahankan harmoni dalam semangat kebinekaan. Akan tetapi, harmoni semacam ini tak akan lahir begitu saja. Salah satu prasyaratnya ialah kita mesti memiliki lembaga-lembaga pendidikan yang secara aktif-kreatif memfasilitasinya supaya tumbuh dan berkembang dalam jiwa anak-anak Indonesia.

Jika belajar dari Sekolah Sukma Bangsa dan Sekolah Madania, lembaga pendidikan yang dikelola pemerintah maupun swasta paling kurang harus memperjelas, mempertegas, dan betul-betul menjalankan visi-misi pendidikan yang sesuai. Visi-misi tersebut harus didasarkan atas sudut pandang pendidikan yang tepat dan direalisasikan menggunakan workable best practices, konsep, dan praktik pendidikan yang terbukti efektif.

Visi-misi kebinekaan

Baik Sekolah Sukma Bangsa maupun Sekolah Madania, pada dasarnya lahir di tengah keprihatinan akan keindonesiaan di tengah masyarakat yang mayoritas muslim. Sekolah Sukma Bangsa lahir di Aceh yang dikenal sebagai Serambi Mekah. Pun Sekolah Madania, lahir sebagai wujud mimpi kelas menengah muslim di pusat ekonomi, politik, dan sosio-kultural Indonesia.

Aceh di masa lampau ialah salah satu contoh terbaik kosmopolitanisme di Asia Tenggara. Hingga saat ini tradisi atau realitas itu tak bisa dikatakan padam atau berubah. Jika kita berkeliling Aceh, bertemu dengan masyarakat di perkotaan dan perdesaan, dengan cepat kita akan menangkap fakta bahwa kosmopolitanisme itu tetap hidup. Ialah kecamuk konflik salah satunya yang menyebabkan kebinekaan menjadi tergerus dan keberagaman dipertaruhkan.

Di Jabodetabek, yang mana Sekolah Madania berdiri, kelas menengah terdidik muslim telah menanggung keresahan intelektual-keagamaan sejak 1970-an atau bahkan lebih awal lagi. Mereka seperti terjebak di antara Islam tradisional dan kemoderenan. Keresahan utama mereka, selain terkait penempatan diri secara politik dan kultural, mencakup bentuk pendidikan yang tepat bagi anak-anak Indonesia. Yakni, pendidikan yang modern, tapi berakar pada keindonesiaan yang multikultural.

Aceh pascatsunami ialah Aceh yang bersentuhan kembali secara terbuka dengan orang-orang dari seluruh dunia. Meskipun diimpit penderitaan mendalam dan masif karena bencana, masyarakat Aceh seperti ditarik kembali ke fakta sejarah mereka di masa lampau. Aceh pernah menjadi salah satu pusat peradaban Asia Tenggara dan jika itu hendak dikembalikan, peradaban baru yang kosmopolitan harus dibangun.

Sekolah Sukma Bangsa dibangun demi sebuah masa depan yang berakar pada masa lampau. Itulah sebabnya sekolah ini memfasilitasi pembelajaran untuk para murid dari lapisan dan golongan masyarakat mana pun tanpa pembedaan. Kita bisa menemukan anak-anak Batak yang belajar bersama anak-anak bersuku bangsa Aceh yang mayoritas. Kita bisa menemukan anak-anak Tionghoa duduk sebangku dengan anak-anak keturunan Minang, Jawa, atau Sunda.

Demikian juga di Sekolah Madania. Meskipun para pendirinya ialah cendekiawan dan pengusaha muslim dan bermurid mayoritas muslim, di sana ada anak-anak Hindu-Bali dan Tionghoa yang berlatar belakang Kristen, Katolik, atau Konghucu. Di sana ada fasilitasi pendidikan dan pelayanan ibadah bagi mereka yang berbeda.

Sekolah Madania dibangun di atas sendi multikulturalisme Islam. Ketika Islamisme yang sempit dieksploitasi sedemikian rupa sehingga melahirkan terorisme atas nama agama, Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam diajarkan dan dikembangkan di sini. Di Sekolah Madania, Islam yang kita lihat paling kurang dalam kacamata saya sebagai seorang Hindu-Bali ialah Islam yang tidak hanya ramah, tetapi juga mencerahkan.

Sebagai penutup, dengan melihat teladan kedua rumah pendidikan itu, saya berharap para pejabat dan ahli pendidikan Indonesia bisa membuka mata dan hati lebih lebar lagi. Dengan segala kuasa dan daya yang mereka punya, saya berdoa semoga pendidikan Indonesia bisa betul-betul dibawa ke arah yang kedua lembaga pendidikan ini telah bergerak.

Tentu saja dengan segala keterbatasan kesempatan dan penglihatan saya, pasti terdapat sekolah-sekolah lain yang juga telah berhasil membangun rumah pendidikan yang berbasis Bhinneka Tunggal Ika dan hebat.

Dengan umur dan daya yang masih saya miliki, semoga saya juga mendapat kesempatan untuk tidak hanya berkunjung ke sana, tetapi juga belajar lebih luas dan dalam serta menyebarkan setiap best practices yang mereka punya di mana pun saya berada.

BERITA TERKAIT