04 March 2020, 03:50 WIB

ADB Siap Kucuri Indonesia US$2,7 Miliar


(Mir/E-1) | Ekonomi

Asian Development Bank (ADB) berkomitmen memberikan pinjaman sebesar US$2,7 miliar kepada Indonesia tahun ini.

Besarnya pinajaman itu naik US$1 miliar dari dana pinjaman tahun lalu sebesar US$1,7 miliar.

"Ini sebagai bentuk dukungan kami pada pembangunan Indonesia. Saya harapkan ini dapat berdampak positif," tutur President of ADB Masatsugu Asakawa dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, kemarin.

Asakawa mengungkapkan pihaknya telah mengalokasikan dana pinjaman senilai US$500 juta untuk mendukung program inklusi keuangan dan sebesar US$500 juta untuk program peningkatan daya saing Indonesia.

Kendati demikian, ADB belum dapat memastikan penambahan dana pinjaman itu akan digunakan untuk mendukung program apa. Hal itu karena menunggu kepastian program yang akan dijalankan Indonesia.

Lebih lanjut Asakawa menambahkan ADB dan Indonesia telah bermitra sejak lama dan hubungan itu dapat diperkuat demi tercapainya tujuan Indonesia menciptakan ekonomi yang berkelanjutan, pertumbuhan yang inklusif, dan Indonesia emas 2045.

"ADB sepakat semua itu penting untuk mencapai visi Presiden Joko Widodo dan mencapai high income country di 2045 karenanya ADB ingin meningkatkan partnership dengan Indonesia," ujar Asakawa.

Di kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan tantangan terbesar Indonesia untuk mencapai visi Indonesia emas 2045 ialah menaikkan kelas menengah Indonesia, menghadapi penuaan penduduk Indonesia usia produktif, dan pemerataan pembangunan.

"Saya tidak berbicara tantangan mengenai virus korona yang terjadi dalam beberapa bulan ke belakang, tapi saya berbicara tentang transformasi jangka panjang yang akan dilakukan Indonesia," jelas Suahasil.

Hubungan kemitraan Indonesia dan ADB telah berlangsung selama 50 tahun lebih. Dukungan yang diberikan antara lain mewujudkan energi bersih dan penguatan jaringan kelistrikan, pendidikan tinggi dan pengembangan keterampilan angkatan kerja, serta reformasi untuk peningkatan daya saing. (Mir/E-1)

BERITA TERKAIT