04 March 2020, 02:40 WIB

Impor Barang dari Tiongkok Menyusut hingga 50%


(Mir/E-1) | Ekonomi

DIREKTORAT Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan mencatat terjadi penurunan kinerja impor dari Tiongkok lantaran virus korona. Penurunan yang mencapai 50% itu terlihat sejak pekan ke-5 hingga pekan ke-9 2020.

Besaran nilai impor pada pekan ke-9 tahun ini hanya sebesar US$463 juta, lebih rendah ketimbang besaran nilai di pekan ke-5 sebesar US$948 juta.

Dari 5 komoditas besar yang diimpor dari Tiongkok meliputi komputer, mesin, semimanufaktur, tekstil, dan telepon, penurunan terjadi hampir di tiap komoditas, kecuali telepon.

Penurunan terdalam terjadi pada nilai impor komputer di pekan ke-9 2020 sebesar US$16,7 juta, turun jika dibandingkan dengan pekan ke-5 yang mencapai US$84,1 juta.

Direktur Kepabeanan Internasional dan Antarlembaga Bea dan Cukai Syarif Hidayat menuturkan, penurunan nilai impor dari 'Negeri Tirai Bambu' diprediksi berakhir pada 8 Maret 2020 sesuai dengan kebijakan pemerintah Tiongkok.

"Memang Tiongkok itu merumahkan seluruh pekerja sampai 8 Maret karena virus korona, jadi kegiatan ekonomi relatif terhenti. Tapi mudah-mudahan setelah tanggal 8 ada rebound karena pemerintah mulai normal kembali, kecuali ada pernyataan lanjutan dari pemerintah Tiongkok," jelasnya dalam diskusi bersama awak media di kantornya, kemarin.

Syarif menambahkan, untuk mendorong laju impor dari Tiongkok, pemerintah akan memberi relaksasi kepada importir Indonesia melalui Surat Edaran/02/BC/2020 berupa penggunaan electronic certificate of origin (surat keterangan asal/SKA).

Relaksasi itu diberikan karena COO dari Tiongkok tertahan dan tidak bisa dikirim ke Indonesia. "Jadi kita memberi relaksasi, boleh hanya menyerahkan scan, tetapi scan itu kita konfirmasi ke Tiongkok, apakah barang itu benar atau tidak," jelas Syarif.

Saat ini sudah ada beberapa perusahaan yang memanfaatkan relaksasi ini. Setidaknya telah ada 104 e-COO yang diberikan Tiongkok, tetapi belum bisa terkonfirmasi karena kebijakan untuk merumahkan pekerja masih berlaku. (Mir/E-1)

BERITA TERKAIT