04 March 2020, 02:30 WIB

Pemulihan Indeks masih Butuh Pengujian


Hilda Jualika | Ekonomi

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin ditutup menguat 157,38 poin atau 2,94% ke posisi 5.518,62. Penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) itu menjadi titik balik permulaan setelah dalam dua pekan terakhir indeks mengalami tekanan besar.

Masih butuh waktu untuk memastikan penguatan yang terjadi kemarin merupakan penguatan yang kukuh sehingga memberikan keyakinan investor untuk masuk kembali ke bursa.

Tercatat total frekuensi perdagangan saham mencapai 531,147 kali dengan volume perdagangan sebanyak 7,063 miliar lembar saham. Nilai transaksi harian mencapai Rp6,4 triliun.

Menurut analis Reza Priyambada, langkah pemerintah yang tanggap terhadap penanggulangan virus korona baru (covid-19) memberikan ketenangan bagi pasar.

"Apa yang dilakukan pemerintah ini cukup menenangkan pasar. Bahwa ada langkah dari pemerintah baik dari Presiden Jokowi maupun dari Kementerian Kesehatan untuk menanggulangi penyebaran virus ini," ujarnya kepada Media Indonesia, kemarin.

Adapun sektor-sektor yang memberikan kontribusi penguatan saham kemarin di antaranya sektor infrastruktur yang naik 4,2%, consumer naik 3,9%, serta manufaktur dan aneka industri.

Pihaknya memprediksi pergerakan hari ini masih akan bergerak naik, tapi masih tipis. Untuk memastikan kelanjutan pemulihan kembali indeks, harus melihat pada konsistensinya selama 3-4 hari ke depan.

Dalam kesempatan berbeda, Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat menyarankan investor untuk bersikap cermat di tengah anjloknya pasar finansial saat ini.

"Ketepatan membaca angka dan analisis penting untuk menentukan sikap terutama mengantisipasi peluang cuan ketika terjadi krisis. Kendati valuasi dianggap sudah murah, investor tetap perlu berhati-hati terhadap potensi koreksi harga saham sehingga sikap menunggu menjadi lebih tepat," ujar Budi dalam keterangan resmi yang diterima Antara di Jakarta, kemarin.

Jika mengamati penurunan IHSG, Budi menilai valuasi IHSG relatif paling murah jika dibandingkan dengan bursa regional lainnya.

Berdasarkan pengalaman melintasi berbagai krisis, kondisi saat ini tampak berbeda bila dibandingkan dengan menjelang krisis 2008.

"Saat itu, sikap terbaik ialah menahan ketamakan, controlling the greed, karena valuasi saham sudah terlalu tinggi dan jauh melebihi acuan normatif pertumbuhan GDP nominal. Sementara saat ini, kita perlu mengelola rasa takut, managing fear. Masih ada aset investasi yang menarik terutama SBN yang justru menjadi prasyarat peluang cuan saham," ujar Budi.

Rupiah melemah

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada kemarin sore ditutup melemah seiring koreksi mayoritas mata uang kawasan Asia.

Rupiah ditutup melemah 18 poin atau 0,12% menjadi Rp14.283 per dolar AS jika dibandingkan dengan posisi hari sebelumnya 14.265 per dolar AS.

"Mata uang garuda dalam penutupan perdagangan sore (kemarin) ditutup melemah tipis karena pasar merespons data eksternal terutama laporan WHO tentang lonjakan virus korona," ujar Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, di Jakarta, kemarin. (E-1)

BERITA TERKAIT