03 March 2020, 23:40 WIB

Netanyahu Klaim Menang Pemilu


(AFP/Nur/X-11) | Internasional

PERDANA Menteri Benjamin Netanyahu mengklaim kemenangan dalam pemilihan umum Israel. Berdasarkan hasil exit poll, Netanyahu yang tengah didakwa dengan dugaan korupsi tersebut menempati posisi yang kuat untuk membentuk pemerintahan berikutnya.

Pemilihan ketiga yang berlangsung dalam kurang satu tahun pada Senin (2/3) itu dilakukan setelah pemungutan suara yang tidak meyakinkan pada April dan September tahun lalu sehingga membuat negara Yahudi tersebut berada dalam kebuntuan politik.

"Ini adalah kemenangan terpenting dalam hidup saya," kata Netanyahu kepada kerumunan pendukung di Tel Aviv, kemarin.

Surat suara masih dihitung, tetapi berdasarkan hasil exit poll dari tiga jaringan, Partai Likud yang dipimpin Netanyahu diperkirakan memperoleh antara 36 dan 37 kursi dari 120 kursi parlemen Israel.

Perkiraan itu memberi Likud dan sekutu sayap kanannya, termasuk partai ultra-ortodoks, memperoleh 59 kursi.

Sementara itu, penantang utama Likud, yakni Partai Blue and White, diproyeksikan menang antara 32 dan 34 kursi. Jika dihitung dengan perolehan kursi dari sekutu kiri tengahnya dan aliansi Joint List Arab, pesaing Netanyahu tersebut diperkirakan akan memperoleh 54 hingga 55 kursi.

Dalam sebuah pernyataan, Likud mengatakan Netanyahu telah berbicara dengan semua kepala partai sayap kanan dan setuju untuk membentuk pemerintah nasional yang kuat untuk Israel sesegera mungkin.

Pemimpin Blue and White, mantan kepala militer Benny Gantz, mengakui kekecewaannya dengan hasil pemilu.

Terlepas dari penghitungan akhir, tekannya, Netanyahu masih akan diadili pada 17 Maret mendatang setelah didakwa dengan suap, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan. "Dalam dua minggu, dia akan ada di pengadilan," kata Gantz.

Hasil pemilu ini juga mengecewakan kelompok Palestina karena Netanyahu selama ini berkampanye untuk perluasan wilayah permukiman Israel di Tepi Barat.

"Hasil ini menunjukkan telah menangnya pendukung apartheid, aneksasi, dan pendudukan," kata tokoh Palestina, Saeb Erekat. (AFP/Nur/X-11)

BERITA TERKAIT