03 March 2020, 14:19 WIB

Deteksi Virus Korona, Indonesia Mengacu ke WHO


Ihfa Firdausya | Humaniora

PROSEDURAL deteksi virus korona saat ini Indonesia masih mengacu pada World Health Organization (WHO) dengan menggunakan metode Reverse transcription-polymerase chain reaction (RT-PCR).

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Agus Dwi Susanto RT PCR lebih akurat karena mendeteksi virus dari sampel biologi tubuh.

"Acuannya saat ini masih WHO. Pemeriksaan pasti dengan RT PCR," ungkapnya kepada Media Indonesia, Selasa (3/3).

Sebelumnya, jurnal kesehatan The Lancet menyebutkan berdasarkan hasil riset radiolog dan perbandingan diagnosis radiolog, penggunaan Computed Tomography (CT) Scan lebih akurat daripada RT PCR dalam mendeteksi korona. Terlebih, Tiongkok sebagai negara asal Covid-19 juga telah menggunakan metode CT Scan untuk mendeteksi korona.

Agus menjelaskan, CT Scan mendiagnosis kelainan anatomi dalam paru-paru tanpa bisa menentukan kandungan virus di dalamnya.

"RT PCR lebih akurat karena deteksi virus dari sampel biologi tubuh. Dalam hal ini dari swab tenggorokan, aspirat saluran napas bawah atau cairan bronchoalveolar lavage (BAL)," jelas Agus.

Sedangkan CT scan paru, tambahnya, pemeriksaan pencitraan untuk melihat kelainan anatomi tetapi tidak bisa melihat virusnya apa.

''Jadi tidak spesifik atau kurang akurat," imbuhnnya

Dalam hal ini, Agus menjelaskan, CT Scan merupakan metode pemeriksaan untuk scaning paru guna melihat kelainan anatomi jaringan paru. Sementara itu, RT PCR adalah pemeriksaan untuk deteksi virus dengan teknik real time PCR. (OL-2)

BERITA TERKAIT