03 March 2020, 13:03 WIB

Menguak Mitos Seputar Virus Corona


Melalusa Susthira K | Weekend

Virus corona atau COVID-19 yang mewabah sejak awal 2020 telah menginfeksi puluhan ribu warga di berbagai negara dan menimbulkan kecemasan global, termasuk Indonesia yang baru saja mengumumkan kasus positif corona perdananya pada hari ini. 

Beragam mitos seputar virus yang pertama kali dilaporkan di Wuhan, Tiongkok, tersebut pun beredar di masyarakat. Berikut mitos seputar corona yang jangan ditelan mentah-mentah, di antaranya:

1. Terkena virus corona ibarat hukuman mati

Seperti dilansir Business Insider, berdasarkan data yang ada hingga saat ini virus corona masih tampak sebagai jenis infeksi virus yang ringan. Ada  2 %  tingkat kematian, dan sekitar 18% hingga 20% yang mungkin berada dalam kisaran kondisi kritis.

Dari 2% yang meninggal tersebut adalah yang menderita sakit paling serius dan telah berada di rumah sakit. Jadi, terjangkit virus corona bukanlah hukuman mati kerena mereka yang di rumah sakit bahkan memiliki kemungkinan 98% untuk bertahan hidup.

2. Hanya orang-orang Tiongkok yang terkena virus corona

Meskipun virus corona pertama kali mulai dilaporkan di Tiongkok, namun pada kenyataannya itu adalah virus bagi setiap orang. Dan seperti halnya flu yang dapat menular dan penyebarannya sudah cukup jauh, corona pun juga bisa mendera di mana pun - tak hanya Tiongkok. Sehingga virus tersebut tidak mengenal batas,dan dalam hal ini semua orang rentan terhadap COVID-19.

3. Corona adalah virus yang paling berbahaya

Bila membandingkan COVID-19 dengan sejumlah virus lainnya di dunia, masih ada virus yang memiliki angka kematian jauh lebih tinggi, misalnya virus Ebola.

Selain itu, angka pemulihan dari yang terinfeksi COVID-19 juga cukup tinggi, dengan penghitungan resmi mencapai 6.000 pemulihan. Angka pemulihan tersebut masih dapat lebih tinggi, karena jarang yang melaporkan ketika seseorang telah pulih dari corona dan pulang dari rumah sakit --ketimbang melaporkan saat terinfeksi.

4. Mengenakan masker akan melindungi diri dari virus corona

Nyatanya, hal yang lebih tepat untuk mencegah penyebaran virus corona ialah dengan rutin mencuci tangan, ketimbang mengenakan masker. Ada dua jenis masker yang kerap dipakai yakni masker bedah atau operasi dan masker N95 yang dapat efektif menyaring partikel hingga 95%. Namun masker N95 sendiri tidak nyaman dipakai secara terus menerus, bahkan orang dalam kondisi bugar pun akan cukup sulit bernapas mengenakan masker tersebut. 

5. Virus corona berasal dari sup kelelawar

Meskipun penyakit tersebut pertama kali disebut awalnya dimulai dari pasar basah yang menjual berbagai hewan di Wuhan, Tiongkok, namun spekulasi bahwa virus tersebut berasal dari sup kelelawar tidaklah benar, karena kemunculan virus itu tidak dari seseorang yang benar-benar mengonsumsi sup kelelawar. Sebaliknya, hal yang pasti diketahui ialah bahwa virus ini menyebar melalui partikel tetesan seseorang yang terinfeksi baik secara langsung ataupun tidak, misalnya lewat batuk atau bersin.

6. Dapat tertular Corona dari paket yang dikirim dari Tiongkok

Meskipun virus corona dapat bertahan di luar tubuh manusia hingga beberapa lama, namun untuk mendapatkan sebuah paket yang dikirim dari Tiongkok sudah tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Partikel dari tetesan orang yang terinfeksi tersebut dapat mengandung virion, atau virus itu sendiri, yang umumnya tidak dapat bertahan hidup di luar tubuh manusia untuk waktu yang lama. Meskipun butuh penelitian lebih lanjut lagi untuk mengetahui secara pasti umur virus tersebut di luar tubuh manusia.

7. Memberlakukan pembatas akan menghentikan penyebaran virus

Menilik dari yang lalu, larangan perjalanan secara terbukti tidak terlalu efektif untuk menghentikan penyebaran virus, karena jenis-jenis virus pernapasan seperti halnya corona, tidak mengindahkan batas. Sejumlah negara selama ini membatasi perjalanan nonpenting ke Tiongkok daratan karena menilai merupakan epicentrum dari virus corona dan banyak terjadi transmisi silang komunitas dunia. Namun apabila hendak bepergian ke luar negeri dapat menghubungi penasehat kesehatan perjalanan Centers for Disease Control, guna mendapat informasi terkait tindakan pencegahan.

8. Virus hanya menyerang orang lanjut usia

Virus corona mempengaruhi semua orang, bahkan anak-anak. Lansia, bagaimanapun, adalah orang-orang yang lebih rentan memiliki penyakit parah atau penyakit yang lebih serius. Jadi semua lansia harus berhati-hati, namun virus ini pada hakikatnya mempengaruhi semua orang. Mereka yang lebih muda mungkin emiliki kondisi kesehatan awal yang lebih baik dibandingkan orang lanjut usia. 

BACA JUGA: JK: Jangan Panik, Tetap Waspada

9. Hewan peliharaan dapat menularkan virus corona

Saat ini belum tampak adanya kasus bahwa hewan peliharaan menularkan virus kepada pemiliknya. Di sisi yang lain, justru manusia yang lebih cenderung berpotensi menularkan virue kepada hewan peliharaan.

10. Virus corona sengaja dibuat atau diciptakan

Penyakit menular dapat disebabkan oleh sejumlah hal berbeda dan itu hal yang alami di lingkungan. Kemungkinan terjadi karena, perubahan iklim, faktor ekologis, faktor pertanian, perilaku manusia yang terus terjadi di sekitar kita, sehingga wabah tak terhindarkan. Untuk dapat menciptakan rekayasa seperti itu, manusia masih jauh di belakang alam. COVID-19 pun masih satu keluarga dengan SARS dan MERS, sehingga hanya menambah deret keluarga coronavirus.  

11. Antibiotik mencegah dan mengobati virus

Virus dan bakteri adalah dua mikroba yang berbeda. Untuk itu, guna mengobati virus corona ialah menggunakan obat antivirus dan bukan antibiotik yang ditujukan untuk bakteri. Jadi antibiotik dalam konteks virus corona tidak bekerja kecuali jika seseorang memiliki infeksi sekunder yang bersifat bakteri. (M-2)

BERITA TERKAIT