03 March 2020, 12:00 WIB

WHO: Covid-19 Unik Tapi Bisa Dikendalikan


Willy Haryono | Internasional

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) menyebut virus korona covid-19 sebagai sebuah virus unik. Virus yang pertama kali terdeteksi di Tiongkok pada Desember 2019 itu telah menewaskan lebih dari 3.100 orang di kancah global.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan covid-19 memang unik namun dapat dikendalikan dengan langkah-langkah yang tepat.

Sebagian besar kematian akibat covid-19 berada di Tiongkok. Namun dalam sepekan terakhir, jumlah kasusnya di luar Tiongkok melonjak drastis.

"Korea Selatan, Italia, Iran, dan Jepang merupakan kekhawatiran terbesar kami," ujar Tedros dalam konferensi pers di Jenewa, dilansir dari laman BBC, Selasa (3/3).

"Ini adalah virus unik dengan fitur unik. Virus ini bukan influenza. Kita semua belum sepenuhnya memahami virus ini," lanjutnya.

Baca juga: Gara-Gara Korona, Mendagri Jerman Tolak Jabat Tangan Merkel

Covid-19 mirip dengan Sindrom Pernapasan Akut Berat (SARS) namun dengan tingkat kematian yang lebih rendah. WHO menyebut tingkat kematian akibat covid-19 hanya berkisar 2% hingga 5%.

Berdasarkan data terbaru situs pemantau John Hopkins CSSE, Selasa (3/3), angka kematian global akibat Covid-19 mencapai 3.116. Sementara total kasus korona Covid-19 melampaui 90 ribu dengan pasien sembuh menyentuh angka 47.984.

Meski angka kasus di luar Tiongkok terus meningkat, Tedros optimistis komunitas global dapat mengalahkan covid-19.

Menurutnya, pandemik global covid-19 dapat dicegah jika semua negara bertindak cepat dan efektif, dengan dimulai dari langkah pengisolasian.

"Tidak ada pilihan lain selain bertindak sekarang juga," tegas Tedros.

Dari total 62 negara yang mengonfirmasi kemunculan korona, 38 di antaranya hanya melaporkan 10 kasus atau di bawahnya.

"Ada delapan negara yang jumlah kasusnya tidak bertambah dalam kurun waktu dua pekan. Kedelapan negara itu berhasil mencegah terjadinya wabah," sebut Tedros.

Menurut dia, musuh sebenarnya dari penyebaran covid-19 adalah stigma dan disinformasi yang dapat memicu kepanikan.

"Stigma lebih berbahaya dari virus. Mari kita garisbawahi bersama. Stigma adalah musuh paling berbahaya," pungkas Tedros. (OL-1)

BERITA TERKAIT