03 March 2020, 09:50 WIB

Mensos Juliari: Pendekatan Humanis Terapi Efektif Disabilitas


mediaindonesia.com | Humaniora

TIBA di Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Mental (BRSPDM) Dharma Guna, Kota Bengkul, Selasa (2/3), Menteri Sosial (Mensos) Juliari P. Batubara mendapat jamuan istimewa. Bukan teh atau kopi, namun ia mendapat kehormatan mencicipi sirup kalamansi.

Sirup dari ekstrak jeruk kalamansi merupakan hasil racikan para penyandang disabilitas mental yang menjadi penerima manfaat (PM) di BRSPDM Dharma Guna.

“Rasanya enak menyegarkan,” kata Mensos Juliari usai mencicipi Sirup dari ekstrak jeruk kalamansi. .

Dari segelas sirup kalamansi karya PM BRSPDM Dharma Guna, Mensos dapat menyimpulkan bahwa kedisabilitasan tidak akan menghalangi dan menghambat seseorang untuk bisa berkarya dan berprestasi.

“Nyatanya, penyandang disabilitas mental di sini mampu memproduksi sirup kalamansi,” kata mantan Ketua Ikatan Mobil Indonesia (IMI) Pusat ini.

Dengan demikian, stigma negatif terhadap penyandang disabilitas mental telah dipatahkan oleh Kemensos melalui layanan rehabilitasi sosial. Menurut Mensos, penerima pelayanan bisa pulih, dengan berbagai macam pendekatan humanis dan terapi penghidupan.

“Tahun ini saya mengalokasikan peningkatan anggaran untuk optimalisasi program rehabilitasi sosial karena sifatnya jangka panjang. Saya melihat bahwa balai rehsos harus jadi etalase dari kemensos yang dilihat langsung masyarakat,” kata Mensos.

BRSPDM Dharma Guna di Bengkulu telah memberikan layanan rehabilitasi sosial berdasarkan arah baru kebijakan Program Rehabilitasi Sosial 5 klaster New Platform (Progres 5.0 NP). Salah satunya adalah terapi penghidupan ( livelihood therapy).

Tujuan dari terapi penghidupan di balai ini agar penerima pelayanan dapat kembali ke masyarakat dengan bekal keterampilan yang telah dimiliki, terdiri dari pembuatan sirup kalamansi, keterampilan membuat batubata, keterampilan perikanan, keterampilan membatik dan keterampilan pertanian.

Terapi penghidupan yang kini menjadi primadona para penerima pelayanan khususnya wanita adalah pembuatan sirup kalamansi.

Dari lahan seluas kurang lebih 2.500 meter persegi milik balai, jeruk kalamansi sebagai bahan baku utama sirup dipanen secara periodik. Semenjak tahun 2015, sirup kalamansi diproduksi secara massal dan saat ini dalam satu hari bisa memproduksi kurang lebih 50 kg jeruk yang menghasilkan 60 botol ukuran 250 ml.

Di akhir kunjungan, Mensos menyampaikan apresiasi dan motivasi kepada seluruh pegawai. “Bekerjalah dengan ikhlas, penuh kasih sayang dan bekerjalah dengan hati yang gembira, melayani sesama,” pesan Mensos. (OL-09)

BERITA TERKAIT