03 March 2020, 06:32 WIB

Kejagung Bidik Tambang Emas Milik Tersangka Jiwasraya


Candra Yuri Nuralam | Politik dan Hukum

KEJAKSAAN agung membidik aset tambang emas milik tersangka kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya Heru Hidayat. Tambang emas itu berada di Lampung.

Direktur Penyidikan Tindak Pidana Khusus Kejagung Febri Adriansyah mengatakan pihaknya belum melakukan penyitaan terhadap tambang emas itu. Saat ini, Kejagung masih memproses perizinan penyitaan.

"Baru izin sita yang turun. Setelah ada izin itu, baru penyidik yang lakukan penyitaan," kata Febri di Gedung Bundar, Kompleks Kejagung, Jakarta Selatan, Senin (2/3).

Febri mengatakan Kejagung sangat berhati-hati dalam melakukan tindakan penyitaan ini. Pasalnya, kata dia, Heru bukanlah pemilik tunggal tambang emas itu.

"Masih ada pihak lain. Nama perusahaannya PT Batutua Waykanan Mineral," ujar Febri.

Baca juga: MAKI Nilai KPK Belum Serius Cari DPO Kasus Korupsi

Febri juga belum tahu kapan penyitaan bakal dilakukan. Menurut dia, saat ini, Kejagung sedang sibuk mengebut pemberkasan para tersangka.

"Liat kegiatan penyidiklah. Ini kan lagi kenceng-kencengnya pemberkasan, sampai hari ini aja 71 panggilan yang datang 40-an. Belum besok, besok masih banyak. Jadi mereka sibuk pemberkasan," tutur Febri.

Pelaksana tugas Jampidsus, Jaksa Agung Muda Pidana Umum Ali Mukartono, mengatakan pihaknya tidak bisa semena-mena dalam melakukan penyitaan.

Menurut dia, penyitaan aset tersangka tidak boleh mematikan nasib orang lain yang tidak terlibat dalam kasus ini.

"Penyitaan itu kan jangan sampai perusahaan itu berhenti, penyitaan terus berjalan tapi jangan sampai merugikan orang banyak, misalnya itu kan ada pemegang saham yang lain, di situ ada pekerja, jangan sampai pekerja itu di-PHK, kita pikirkan itu," ujar Ali.

Ali juga mengatakan Kejagung butuh data terlebih dahulu dari Menteri BUMN Erick Thohir sebelum melakukan penyitaan terhadap aset Heru. Kejagung butuh data pasti terkait aset kepemilikan Heru terlebih dahulu.

"Itu nanti dapat laporan dari menteri BUMN, kita hanya lihat oh ada saham tersangka berapa persen di situ," tutur Ali.

Kejagung menetapkan enam tersangka kasus dugaan korupsi Jiwasraya. Mereka ialah Komisaris PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro, Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk Heru Hidayat, Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya Hendrisman Rahim, mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan PT Jiwasraya Syahmirwan, mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya Hary Prasetyo, dan Direktur Utama PT Maxima Integra Joko Hartoni Tirto.

Mereka dijerat Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b serta Pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Teranyar, Benny dan Heru ditetapkan sebagai tersangka pencucian uang. (OL-1)

BERITA TERKAIT