03 March 2020, 05:20 WIB

Perlambatan Sektor Properti Berlanjut


Dero Iqbal Mahendra | Ekonomi

PENGARUH ekonomi global dan dampak virus korona turut menjadi pemicu melambatnya pertumbuhan di bidang sektor properti. Perlambatan dalam sektor pro­perti itu diperkirakan masih akan terjadi pada tahun ini.

“Meski umumnya kami mereview setelah satu kuartal berjalan, saat ini baru dua bulan sudah ada tanda-tanda penurunan atau minimal stag­nasi mulai terasa,” ungkap Wakil Ketua Umum DPP REI Bidang Informasi dan Telekomunikasi Digital Bambang Eka Jaya ketika dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Perlambatan pertumbuhan itu masih akan terjadi di sektor high end yang berlangsung sejak 2014. Terutama setelah tax amnesty 2017 dan ketatnya pengawasan pajak membuat properti high end mati suri lantaran konsumen high end lebih membayar secara tunai dan bukan dengan kredit pemilikan rumah (KPR).

“Jadi, yang masih berjalan ialah properti menengah bawah yang market-nya lokal,” terang Bambang.

Perlemahan dari bursa efek juga memberikan pe­ngaruh kepada perusahaan pengembang, khususnya per­usahaan yang go public. Nilai kapitalisasi pasar perusahaan kian menyusut secara drastis sehingga mengurangi daya saing serta ekspektasi dan akhirnya memperlambat pertumbuhan properti di Indonesia.

Untuk saat ini dengan situasi ekonomi global yang masih lemah, Bambang menyebutkan para pengembang lebih wait and see dan mengurangi ekspansi yang terlalu agresif sambil memonitor perkembangan ekonomi global.

“Mudah-mudahan pemerintah juga memberikan insentif-insentif yang segar bagi perkembangan dunia properti. Itu karena properti merupakan lokomotif pembangunan, jika bergerak, ada 74 industri terkait dan lebih dari 214 industri turunan yang juga bergerak,” tutur Bambang.

Terkait dengan virus korona, menurut Bambang, dampaknya lebih memukul pada sektor-sektor yang berhubungan dengan kedatangan wisatawan luar negeri, dalam hal ini unit properti sewa akan mengalami pukulan keras.

Secara langsung, memang tak ada efek yang instan pada sektor properti jual di Indonesia. Namun, apabila situasi berlarut bakal memenga­ruhi perekonomian Indonesia yang pada akhirnya juga akan menurunkan sektor properti.

Insentif

Pengamat Ekonomi Bank Permata Josua Pardede menambahkan perlambatan ekonomi global, khususnya Tiongkok, dan perlambatan ekonomi domestik ikut memengaruhi sektor properti melalui penurunan daya beli bagi masyarakat berpengha­silan rendah.

Adapun bagi masyarakat menengah atas cenderung menunda untuk belanja atau investasi properti di tengah gejolak di pasar keuangan global serta potensi perlambatan ekonomi.

Meski begitu, Josua menilai dalam rangka meminimali­sasi dampak negatif pada sektor properti, pemerintah sebelumnya menyatakan akan memberikan stimulus bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) berupa subsidi suku bunga dan uang muka. Pemerintah pun akan menambah kuota perumahan bersubsidi dengan harapan dapat mendorong permintaan sektor properti.

Josua menyarankan agar langkah pemerintah itu dapat dilanjutkan dengan memberikan insentif bagi pengembang untuk mendorong pembangunan proyek perumahan dengan skema FLPP. Dengan begitu, diharapkan akan mengurangi backlog pada suplai properti serta mendorong sisi permintaan terhadap properti. (S-3)

 

BERITA TERKAIT