03 March 2020, 01:40 WIB

Kemudahan Impor Selamatkan Industri


Andhika Prasetyo | Ekonomi

PEMERINTAH dalam waktu dekat akan memberi kemudahan impor bahan baku seiring dengan lumpuhnya industri bahan baku di Tiongkok gara-gara penyebaran virus korona.

Menteri Keuangan Sri ­Mul­­­yani mengatakan ­kemudahan impor bahan baku hanya diberikan kepada 500 importir bereputasi tinggi. Langkah tersebut diambil guna mendorong produktivitas industri manufaktur di Tanah Air.

“Kalau Tiongkok mengalami penundaan produksi bahan baku karena korona, pasti akan ada pengaruhnya ke industri Indonesia,” ujar Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, ­kemarin.

Pemerintah Tiongkok hingga kini masih menginstruksikan seluruh warganya untuk tak keluar rumah. Pabrik-pabrik banyak yang memilih setop beroperasi sejak ­pertengahan Februari lalu lantaran ketiadaan pekerja.

Pemerintah Indonesia, kata Sri Mulyani, terus mewaspadai dampak dari penurunan industri Tiongkok itu.

Pasalnya, ketika industri di ‘Negeri Tirai Bambu’ tidak beroperasi, yang terkena imbas bukan hanya negara itu sendiri. Banyak negara, termasuk Indonesia, akan merasakan dampak buruk.

“Pasalnya, Tiongkok merupakan salah satu negara sumber impor bahan baku manufaktur terbesar di dunia,” tutur Sri Mulyani.

Ia mengambil contoh industri plastik, tekstil, baja, dan bahan kimia Indonesia yang masih bergantung pada bahan baku dari Tiongkok hingga 30%-50%.

Dalam menyikapi hal itu, lanjut dia, Presiden Joko Widodo menginstruksikan jajarannya untuk segera mempermudah impor bahan baku industri.

Dengan kemudahan tersebut, para importir bereputasi baik akan dipersilakan melakukan pengadaan barang dari negara-negara selain ­Tiongkok tanpa perizinan yang ­berbelit.

“Sehingga pabrik mereka bisa tetap berjalan secara baik. Untuk saat ini, kita masih akan berkoordinasi terus dengan Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan untuk melihat peta industri manufaktur apa yang terdampak cukup besar,” ucap Ani.

Cari substitusi

Dalam kesempatan berbeda, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku sudah menyiapkan dua solusi bagi para pengusaha di wilayahnya yang bahan baku untuk usaha mereka masih diimpor dari Tiongkok.

“Kalau banyak impor atau bahan bakunya itu bergantung pada Tiongkok maka kita sedang mencari sumber dari negara lain,” kata Ganjar setelah bersama pengurus Kagama bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

Solusi kedua yang ditawarkannya ialah mencari substitusi barang-barang impor dari Tiongkok.
Ganjar secara khusus ­mengajak diskusi pengurus ­Apindo dan Kadin di wilayahnya dan menanyakan persoalan yang mereka hadapi di tengah mewabahnya virus korona.

“Kita minta mereka menyampaikan kepada kami apa sebenarnya problemnya. Beberapa yang mereka sekarang coba hitung-hitung ialah apakah stok bahan bakunya masih bertahan,” ungkap Ganjar.

Banyak dari mereka memperkirakan persediaan bahan baku masih aman dalam dua bulan ke depan.
Beberapa produk yang masih impor untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Jawa Tengah di antaranya kapas dan bawang putih. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT