03 March 2020, 00:00 WIB

WHO Minta Semua Negara Stok Ventilator


AFP/BBC/CNA/Nur/Hym/X-11 | Internasional

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) meminta semua negara bersiap untuk merawat pasien yang sakit parah akibat virus korona baru dengan memperbanyak stok ventilator.

Dalam laporan terbarunya mengenai covid-19, badan kesehatan PBB tersebut menekankan bahwa terapi oksigen merupakan intervensi perawatan utama bagi pasien dengan covid-19 yang parah. “Semua negara harus bekerja untuk mengoptimalkan ketersediaan pulse oximeter dan sistem oksigen medis,” kata WHO, kemarin.

WHO mencatat bahwa virus itu tampaknya menyerang mereka yang berusia di atas 60 tahun dan orang-orang yang kondisinya lemah karena penyakit lain. Di antara hampir 45.000 orang yang dites positif covid-19 di Tiongkok pada 24 Februari, hanya 2,1% yang usianya di bawah 20 tahun.

Badan kesehatan PBB tersebut juga menekankan pentingnya pengakuan sejak dini serta diikuti penerapan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi yang tepat, penyediaan perawatan bagi pasien yang menderita penyakit ringan dan perawatan bagi pasien yang menderita penyakit parah.

Sementara itu, korban kematian global dari epidemi virus korona kini telah melampaui 3.000 orang setelah puluhan lainnya meninggal di Tiongkok dan kematian kedua di AS. Virus tersebut sekarang telah menginfeksi lebih dari 88.000 orang dan menyebar ke lebih dari 60 negara setelah pertama kali muncul di Tiongkok akhir tahun lalu.

Di Italia, korban tewas akibat wabah virus korona baru meningkat menjadi 34 jiwa. Peningkatan itu datang ketika pemerintah bersiap untuk meningkatkan pengeluaran untuk membantu ekonomi yang rapuh.

Terkait virus korona, pihak berwajib Korea Selatan akan memeriksa Lee Man-hee, pendiri Gereja Shincheonji, dan 11 orang lainnya. Mereka dituduh menyembunyikan nama beberapa anggota ketika petugas mencoba melacak pasien.

Korsel telah melaporkan 3.730 kasus dan 21 kematian sejauh ini. Lebih dari setengah yang terinfeksi virus korona melibatkan anggota Gereja Shincheonji.

Seorang anggota senior gereja, Kim Shin-chang, mengatakan pihaknya sangat menyesal telah menyebabkan kekhawatiran. Dia mengakui beberapa anggota gereja takut untuk mengungkapkan identitas mereka. Tetapi, saat ini gereja telah meng­ungkapkan semua informasi, termasuk lokasi dan para anggotanya. (AFP/BBC/CNA/Nur/Hym/X-11)

BERITA TERKAIT