02 March 2020, 20:31 WIB

Menkeu Anggota G20 Bahas Dampak Virus Korona Terhadap Ekonomi


M. ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

PERTEMUAN antarmenteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara anggota G20 dibahas mengenai proyeksi dan tantangan ekonomi global 2020.

Salah satu yang dibahas menurut Staf Ahli Menteri Keungan Bidang Makro Ekonomi dan Keuangan Internasional ialah tren ekonomi dunia yang menurun akibat adanya wabah virus korona Covid-19 yang sudah ada di lebih dari 50 negara.

"Meski ada optimisme di 2020 akan tumbuh 3,3%, tapi ada potensi down-side, ada geopolitik, ketegangan perdagangan yang masih tersisa, meski ada fase pertama tapi kam remaining trade tention masih ada. Kemudian masih ada coronavirus," jelas Suminto dalam diskusi bersama awak media di kantornya, Jakarta, Senin (2/3).

Untuk menghadapi berbagai tantangan dan membuat perekonomian dunia tetap stabil berkembang, kata Sminto, dibutuhkan policy mix (kebijakan bauran) meliputi kebijakan moneter yang akomodatif, kebijakan fiskal yang ekspansif dan reformasi struktural untuk jangka menengah.

Virus korona, imbuh dia, jadi perhatian seluruh negara G20 lantaran besaran dampaknya ditentukan oleh seberapa cepat penanganannya dilakukan. Bila penanganannya lama untuk dilakukan, maka dampak dari virus korona akan semakin meluas.

"IMF bilang dampaknya ini bisa lebih lama daripada tradewar, karena mendisrupsi rantai pasok juga menggerus confidence. Karena corona virus orang jadi takut jalan. Jadi dia mengganggu perdagangan, tourism, pergerakan barang, orang dan sebagainya," terang Suminto.

Baca juga : Antisipasi Covid-19, BI Keluarkan 5 Kebijakan Penguatan Rupiah

Selain virus korona, negara G20 juga mengidentifikasi risiko lain seperti isu lingkungan yang telah dan akan terjadi. Pasalnya bencana alam dan lingkungan juga berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi dunia.

Selain itu, teknologi siber dianggap dapat mengancam keuangan yang juga mengikis kondisi sosial ekonomi dunia. Hal lainnya ialah utang koorporasi dan utang luar negeri menjadi perhatian negara G20.

"Indonesia masih dalam posisi aman, tapi secara global mulai ada perhatian dari risiko utang yang meningkat, karena easing monetary dan menyebabkan tingginya likuiditas. Bagaimana me-manage utang dari koprporasi dan utang luar negeri negara berkembang itu jadi perhatian," urai Suminto.

Untuk penanganan tantangan risiko tersebut, dalam pertemuan G20 itu dinilai perlu berbagai kebijakan bauran domestik. "Intinya kebijakan moneter akomodatif, fiskal ekspansif dan reformasi struktural untuk mendukung pertumbuhan dalam jangka menengah," jelas Suminto.

Selain itu, pemetaan solusi global juga diperlukan dalam rangka mengantisipasi gejolak ekonomi dunia, tak terkecuali untuk virus korona. Pasalnya saat ini dampak dari virus itu tidak saja dirasakan oleh Tiongkok, melainkan beberapa negara lain.

Solusi global penanganan virus korona, lanjut Suminto juga harus berlaku dalam konteks keuangan global. Kerja sama tiap negara untuk mencari solusi bersama amat diperlukan.

"Jadi perlu integrasi keuangan dan perdagangan global dengan solusi global," pungkasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT