02 March 2020, 13:30 WIB

BMKG Imbau 7 Daerah Sekitar Danau Toba Diwaspadai


Yoseph Pencawan | Nusantara

BALAI Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah I Medan, Sumatera Utara (Sumut) mengimbau masyarakat yang bermukim di wilayah dataran rendah, yang berhubungan langsung dengan tujuh daerah sekitar Danau Toba untuk waspada.

Edison Kurniawan, Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah I Medan, mengutarakan memasuki awal Maret hingga April 2020 wilayah Sumut diperkirakan akan mengalami puncak musim hujan. Kendati,  masih ada sejumlah daerah di Sumut saat ini yang masih mengalami kemarau.

"Tapi kemaraunya basah karena di beberapa wilayah masih terjadi hujan dengan intensitas yang cukup tinggi," ujar Edison, Senin (2/3).

Khusus Sumut, penyebabnya adalah karena daerah ini didominasi oleh laut, terutama di wilayah Pantai Barat. Terjadi kondisi yang disebut dengan Sirkulasi Lokal yang memicu munculnya konvergensi. Ditandai dengan curah hujan yang cukup tinggi di kawasan tersebut.

Sebaliknya, di wilayah Pantai Timur masih cenderung kering, masih ditemui adanya titik-titik panas (hot spot). Sebenarnya hot spot masih ada juga di Pantai Barat, tetapi hujan sudah mendominasi wilayah tersebut.

Pihaknya memperkirakan puncak musim hujan pada Maret-April ini masih seperti biasa atau dalam kondisi normal.

Berbeda dengan wilayah Jawa, wilayah Sumatra seperti Riau, Sumatra Barat dan Sumatra Utara, masih ditemukan beberapa titik panas yang mengartikan wilayah tersebut cukup kering.

Di wilayah Sumut pola curah hujan pada hampir sebagian besar wilayahnya adalah pola Ekuatorial, yang mana dalam satu tahun terjadi dua puncak musim hujan.

Sedangkan puncak hujan di pulau Jawa hanya pada waktu-waktu tertentu, yakni pada Januari, Februari atau Maret. Adapun puncak musim hujan di Sumut terjadi pada bulan April dan Oktober. Terkait dengan antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhuatla), Edison
mengimbau masyarakat agar terus memantau kejadian kebakaran hutan. Itu karena bila tidak ditangani dengan serius maka akan menjadi persoalan bagi seluruh elemen masyarakat.

"Kalau terjadi kabakaran hutan, dengan titik yang kecil saja maka akan meluas," katanya.

Kemudian munculnya gangguang-gangguan tropis, seperti Sirkulasi Lokal, dapat memicu curah hujan yang tinggi, khususnya di wilayah Pantai Barat. Seperti Pakpak Bharat, Tapanuli Tengah (Tapteng), Tapanuli Selatan (Tapsel), Mandailing Natal (Madina), Humbang Hasundutan (Humbahas), Dairi dan Kabupaten Karo, harus diwaspadai karena tingginya curah hujan di wilayah tersebut.

Yang diakibatkan gangguan tropis serta masih tingginya suhu permukaan laut. Bila suhu permukaan laut cukup tinggi atau antara 29-30 milimeter dengan suhu 1-1,5 derajat celcius, maka akan terbentuk awan-awan hujan.

Kemudian pada daerah-daerah hilir atau dataran rendah yang terhubung langsung dengan daerah hulu. Bila terjadi hujan di daerah hulu tersebut maka daerah hilir akan terkena dampak.

"Seperti tujuh kabupaten yang ada di sekitar Danau Toba, mohon diwaspadai, terkait dengan banjir dan tanah longsor," ungkapnya.

Adapun ketujuh daerah tersebut antara lain Kabupaten Simalungun, Toba Samosir (Tobasa), Tapanuli Utara (Taput), Humbahas, Dairi, Karo dan Kabupaten Samosir. (OL-13)

BERITA TERKAIT