02 March 2020, 10:13 WIB

Aceh dan Indonesia Pasca-Kenduri Kebangsaan


Gantyo Koespradono, Mantan Jurnalis Pemerhati Sosial dan Politik | Opini

LAMA tidak ke Aceh, saya akhirnya kembali mengunjungi provinsi yang mendapat julukan Serambi Mekah itu, setelah para tokoh asal Aceh menggelar Kenduri Kebangsaan di Sekolah Sukma Bangsa yang dihadiri Presiden Joko Widodo, Sabtu 22 Februari.

Terakhir saya ke Aceh masih menyandang sebagai wartawan dua atau tiga tahun pascatsunami 2004. Waktu itu, masih ada beberapa kota dan desa yang kondisinya berantakan.

Sekarang, Aceh telah menggeliat, meskipun statusnya sebagai provinsi termiskin se-Sumatra belum hilang atau setidaknya tereliminasi sedikit demi sedikit.

Aceh sebenarnya sudah hidup. Banyak kedai kopi atau rumah makan, andalan Aceh, yang buka 24 jam, atau setidaknya hingga subuh tiba. Aceh tak ubahnya adalah provinsi yang tidak pernah tidur.

Masyarakat Aceh, khususnya generasi muda, sebenarnya sudah bosan berada dalam situasi begini-begini saja. Mereka juga tidak ingin mengenang nestapa tsunami 2004 -- juga masa lalu lainnya -- sebagai alasan untuk mengiba-iba dan minta balas jasa.

"Kami tidak mau mengingat lagi tsunami. Biarlah peristiwa itu kami jadikan titik nol untuk menjadikan Aceh ke depan lebih maju. Semoga Kenduri Kebangsaan bisa menjadi momentum bagi warga Aceh untuk menatap ke depan, bukan terus menengok ke belakang," kata Miswar Ibrahim, anak muda Aceh yang banyak menghabiskan waktu pendidikannya di pesantren.

Ngobrol dengannya, saya menyimpulkan, anak muda yang juga aktivis parpol ini optimistis, 10 tahun ke depan, Aceh benar-benar berubah, diisi oleh generasi penerus yang tidak terus mengenang masa lalu, apalagi peminta-minta dan minta dikasihani.

Acara Kenduri Kebangsaan yang diinisiasi Forum Bersama (Forbes) Anggota DPR-RI/DPD-RI asal Aceh dan Yayasan Sukma selayaknya dijadikan momentum atau pijakan untuk mengakhiri kekelaman Aceh di masa lalu.

Kehadiran Presiden Jokowi dalam acara yang berlangsung semarak itu adalah bentuk keteladanan bahwa mantan wali kota Solo ini telah melupakan masa lalu (ia kalah di Aceh) dalam Pilpres 2019.

Sebelumnya saat memberikan sambutan, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah menyampaikan permohonan maaf atas kekhilafan masa lalu yang terjadi di Aceh.

Terus terang saya saat itu belum tahu permohonan maaf itu disampaikan Nova dalam konteks apa? Saya baru paham setelah Presiden Jokowi menanggapi ternyata terkait dengan hasil Pilpres 2019 di mana perolehan suara Jokowi tidak signifikan dengan perhatiannya kepada Aceh sejak dulu hingga sekarang.

Dengan bersahaja, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa ia menghormati hak politik warga Aceh. Dia hanya meminta masyarakat Aceh tidak keliru menilai bahwa dirinya enggan menginjakkan kaki lagi di Aceh karena hasil Pilpres 2019. 

Menurut Jokowi, pemilihan presiden telah selesai. Sekarang ini bukan saatnya membicarakan perbedaan pilihan politik. Saya pikir hal itu pula yang dirasakan Surya Paloh selaku pembina Yayasan Sukma.

Tak etis memang membandingkan hajatan Kenduri Kebangsaan dengan politik, sebab kenyataannya ada atau tidak ada acara tersebut, saya yakin Yayasan Sukma yang digagas dan dibina Surya Paloh tetap akan terus berkomitmen melahirkan putera-puteri Aceh yang cemerlang untuk masa depan Aceh dan Indonesia.

Informasi yang saya peroleh, Surya Paloh rutin memberikan bantuan (subsidi) hingga miliaran rupiah setiap bulan kepada Sekolah Sukma Bangsa. Saya menduga ini bagian dari komitmen Surya yang mewakafkan apa yang dia miliki buat masyarakat Aceh dan NKRI.

Bahwa kemudian Surya Paloh ketika memberikan sambutan dalam acara Kenduri Kebangsaan menyebut bahwa dana otonomi khusus (otsus) buat Aceh tidak mendidik, saya yakin hal ini disampaikan Surya semata-mata untuk kemandirian masyarakat Aceh. Bukan dendam atau sentimen kepada Nova Iriansyah. 

Sebagai putera Aceh, Surya Paloh tampaknya tidak ingin saudara-saudaranya di Aceh bermental peminta-minta dan terus bermanja-manja.

Untuk diketahui, dalam Kenduri Kebangsaan, Nova dalam sambutannya mengharapkan kepada pemerintah pusat agar tidak membatasi jangka waktu pemberian dana otsus untuk Aceh hanya 20 tahun, tapi selamanya.

Jika Surya Paloh menyebut dana otsus tidak mendidik, bahkan jika perlu dihentikan, Presiden Jokowi menyebut dana otsus bisa dilanjutkan atau ditingkatkan jumlahnya jika memang benar-benar dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat Aceh.

Kalau dana otsus itu tidak menghasilkan apa-apa buat masyarakat Aceh, artinya rakyat di provinsi ini tetap miskin, ya apa boleh buat? Siap-siap dicabut.

Untuk tahun 2020 ini, dana otsus buat Aceh Rp8,3 triliun. Jokowi menyebut, dana itu sangat besar. Ditambah dengan alokasi dana APBD, total ada Rp 17 triliun. "Ini besar sekali. Apakah uang ini benar-benar untuk rakyat? Ini tanda tanya besar buat saya," kata Jokowi.

Saya tidak menafsirkan Jokowi mencurigai Pemerintah Daerah Aceh, tetapi sebagai wujud kepedulian Pemerintah Pusat kepada Aceh yang sesegara mungkin bangkit, sehingga tidak berstatus sebagai provinsi termiskin di tanah Sumatra.

Fakta tidak bisa dimungkiri, banyak orang yang curiga dan bersuara minor tentang dana otsus (baik untuk Aceh maupun Papua). Irwandi Yusuf, gubernur Aceh yang kini meringkuk di LP Sukamiskin, juga gara-gara mempermainkan dana otsus.

Ada pula yang berspekulasi dan berpraduga dana otsus dari pemerintah pusat itu tidak diapa-apakan, tetapi hanya diendapkan di bank dan bunganya dijadikan "bancaan" buat para pejabat.

Kenduri Kebangsaan yang gegap gempita itu selayaknya dijadikan introspeksi bagi semua kalangan di Aceh untuk bertanya siapa sesungguhnya kami? Apa yang sudah kami berikan untuk kemaslahatan bangsa ini?

Yes, fakta tidak bisa dimungkiri, dahulu kala rakyat Aceh memang telah menyumbangkan pesawat dan puluhan kilogram emas kepada negara.

Maaf, bukan tidak bermaksud untuk tidak mengapresiasi, apalagi melupakan perjuangan dan dedikasi para founding fathters Aceh pada masa itu. Menurut saya, kenangan indah itu sudah saatnya diakhiri. Jika mau dilanjutkan, ya, "sekarang apa yang bisa kuberikan buat bangsa ini?"

Kenduri Kebangsaan selayaknya dijadikan pijakan bagaimana keislaman, keacehan dan keindonesiaan telah banyak memberikan kontribusi bagi bangsa.

Intelektual Islam Komaruddin Hidayat saat berbincang-bincang dengan kami di Bandara Maliku Saleh Lhokseumawe, Minggu (23/2) siang sambil menunggu pesawat yang hendak menerbangkan kami ke Medan, Sumatra Utara, mengaku terinspirasi dengan acara tersebut.

"Saya juga mau membuat acara kenduri kebangsaan di Magelang. Saya akan kumpulkan para tokoh dari berbagai agama untuk berkomitmen bagi kemajuan NKRI," katanya.

Nah, lewat Kenduri Kebangsaan, Aceh telah menginspirasi putera-putera bangsa.

BERITA TERKAIT