02 March 2020, 08:20 WIB

Medan Juang Pendidikan


Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI Anggi Afriansyah | Opini

DUNIA pendidikan merupakan medan juang yang berat dan memiliki begitu banyak pekerjaan rumah me­­numpuk serta kompleks. Pa­da 2014, tim Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) men­­catat berbagai pekerjaan rumah tersebut dalam buku Pen­didikan untuk Transforma­si Bangsa: Arah Baru Pendidik­an untuk Perubahan Mental Bang­­sa (Penerbit Kompas, 2014).

Buku tersebut mengejawantahkan begitu banyaknya tantangan yang dihadapi dunia pendidikan, seperti bonus demografi, perluasan pendidikan anak usia dini, pembangunan pendidikan dasar yang bermutu, pengembangan pendidikan menengah universal, lalu pengembangan perguruan tinggi yang berdaya saing, penguatan pendidikan nonformal dan informal dalam kerangka lifelong learning, pengembangan kurikulum, pengelolaan guru, serta pendidikan karakter. Catatan beberapa tahun lalu tersebut masih relevan dalam konteks kekinian.

Data BPS (2019) menunjuk­kan bahwa rata-rata lama se­­­kolah (RLS) penduduk Indo­nesia pada 2018 ialah 8,58 ta­hun. Artinya, secara umum tingkat pendidikan penduduk dewasa setingkat SMP kelas delapan, sementara harapan la­ma sekolah (HLS) sebesar 12,91 atau setara kelas 12. Ang­ka ini menjadi cerminan per­lunya kerja keras pemerintah membangun pendidikan, baik secara kuantitas maupun kualitas.

Keberhasilan membangun pendidikan akan berkorelasi dengan kemajuan Indonesia se­hingga potret pembangunan pendidikan saat ini akan menjadi gambaran kehidupan di ma­sa depan. Bagir (2019) dalam buku Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia menyebut bahwa setiap masalah, baik itu ketidakdisiplinan, ko­rupsi, konflik dan kekerasan, serta ketidakbahagiaan karena rendahnya kualitas pendidik­an sehingga pembangunan pen­didikan yang baik di masa kini akan menghasilkan manusia cerdas yang mampu me­milah risiko dan arif dalam bertindak.

Laporan Driving the Skills Agenda: Preparing Students for the Future yang dirilis The Eco­nomist Unit Intelligence Unit (2018) menyebut perlunya pendidikan untuk memberi bobot pada upaya membangun kemandirian dalam mengeks­plorasi beragam pengetahuan serta merespons perubahan yang terjadi begitu cepat.

Keterampilan literasi, nume­rasi, penguasaan bahasa asing, penyelesaian masalah, kerja sama tim, komunikasi, berpikir kritis, kreativitas, literasi digital, kepemimpinan, kecerdasan emosional, dan kewirausahaan merupakan aspek yang sangat penting dikuasai anak-anak.

Berbagai keterampilan dan karakter yang disampaikan pada laporan tersebut membutuhkan ekosistem pendidikan yang memadai. Tanpa mem­ba­ngun ekosistem pendidikan yang memadai, berbagai kete­rampilan tersebut mustahil dimiliki anak-anak di negeri ini.

Ruang pendidikan yang ramah terhadap beragam potensi anak dan mampu melejitkan berdasarkan keunikan anak-anak ialah keniscayaan, jika ingin membentuk anak-anak bangsa yang memiliki beragam keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan yang semakin tidak pasti.

Zaman bergerak

Dinamika zaman dan transformasinya memerlukan pendidikan yang lebih luwes dan fleksibel. Tuntutan agar anak-anak menjadi sosok yang adaptif, kreatif, reflektif, kritis, dan cinta negeri ini menjadi lebih kuat mengemuka di era saat ini sehingga porsi dunia pen­di­dikan untuk menguatkan hal tersebut menjadi begitu signifikan.

Pendidikan di sini tidak ha­nya dimaknai sebagai dunia persekolahan, tetapi juga ba­gian menyeluruh dari sebuah sistem yang jalin-menjalin. Fondasi­nya ialah keluarga, se­­kolah, masyarakat, yang merupakan ba­gian dari trisentra dalam pandangan Ki Hadjar Dewantara.

Membangun pendidikan ti­dak dapat dilakukan secara parsial, tetapi membutuhkan upaya menyeluruh. Dalam ba­hasa Ki Hadjar Dewantara, pendidikan berarti upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Ketiganya, menurut Ki Hadjar Dewantara, tidak boleh di­pi­sahkan agar melalui pendi­dik­an anak-anak dapat meraih kehidupan yang selaras dengan du­nia­­nya (Majelis Luhur Persa­tuan Taman Sis­­wa, 2013), apalagi jelas gene­rasi saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dengan masa-masa sebelumnya.

Anak-anak yang hadir saat ini juga memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya sehingga pendekatan yang perlu dilakukan pun jelas sangat berbeda. Misalnya, jika menggunakan ka­te­gori yang dibuat David Stillman dan Jonah Stillman (2018) dalam bukunya Generasi Z: Memahami Karakter Generasi Baru yang Akan Mengubah Du­­nia Kerja, mereka yang lahir pada rentang 1995-2012 merupakan generasi Z.

Tipikal generasi yang realistis, lahir di tengah digitalisasi, selalu berusaha terkoneksi dengan informasi, mandiri, dan kompetitif. Jelas sudah, pola pendidikan biasa dapat meng­akomodasi tipikal generasi de­ngan sifat seperti itu.

Berhasil membangun pendi­dikan dengan baik akan men­ja­di da­­ya dukung yang sangat baik bagi keberhasilan Indonesia di masa depan. Itu karena sudah jelas ketika kita gagal mendidik berarti siap meng­ge­­lar karpet merah untuk memanen berbagai risiko.

Kesungguhan dalam mem­ba­ngun pendidikan menjadi hal yang sangat mendesak un­­tuk menuai masa depan In­do­nesia yang gemilang. Na­mun, ketidakseriusan dalam membangun pendidikan akan sangat berkorelasi dengan kesiapan untuk menuai berbagai kegagalan pembangunan di masa depan.

Tilaar (2012) dalam bu­ku Per­ubahan Sosial dan Pendidik­an: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia menyatakan bahwa pendidik­an merupakan kunci dari se­­ga­la perubahan sosial yang di­akui dunia internasional. Me­nurutnya, tanpa reformasi pen­didikan tidak mungkin terlaksana reformasi politik, reformasi ekonomi, dan reformasi sosial sebab reformasi ber­hubungan dengan sikap ma­nusia dan sikap manusia hanya dapat diubah melalui proses pendidikan.

Pada titik ini, peran pemerintah dalam mengorkestrakan kebijakan pendidikan ti­­dak hanya mampu adaptif ter­hadap perubahan zaman, modernisasi, dan globalisasi, tetapi juga memperhatikan lo­kalitas dan potensi dari tiap daerah di Indonesia menjadi sangat penting sehingga tidak ada lagi kebijakan pendidikan gebyah-uyah yang memosisikan seluruh daerah sama, se­­­suatu yang bertentangan de­­ngan Indonesia yang begitu ragam.

Operasionalisasi kebijakan pendidikan itu memerlukan gotong royong dari semua ele­­­­men. Terminologi gotong royong beberapa kali diung­kap­kan Mendikbud dalam be­berapa kesempatan. Ungkap­an gotong royong sangat perlu dioperasionalisasikan dalam praktik-praktik nyata di la­pang­an.

Dalam masyarakat demokratis, partisipasi dari setiap elemen, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas lokal, maupun orangtua ialah keniscayaan. Kerja sama tersebut akan mampu mengubah wajah pendidikan menjadi semakin partisipatif, yang mana setiap pihak berkesempatan memberikan upaya terbaiknya untuk membantu upaya pencerdasan bagi anak bangsa.

BERITA TERKAIT