02 March 2020, 07:45 WIB

Yunani Halangi Hampir 10 Ribu Imigran di Perbatasan Turki


Nur Aivanni | Internasional

YUNANI menghalangi hampir 10 ribu imigran yang berusaha masuk dari perbatasan Turki selama 24 jam terakhir.

Gelombang besar imigran tersebut terjadi pada akhir pekan setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengancam akan membuka perbatasannya ke Eropa.

Erdogan berusaha menekan pemerintah Uni Eropa atas konflik Suriah setelah serangan udara di Provinsi Idlib Suriah pada Kamis (27/2) yang menewaskan puluhan tentara Turki.

Sumber pemerintah Yunani, Minggu (1/3), mengatakan pasukan dan polisinya telah menghentikan ribuan orang memasuki wilayah mereka.

"Dari (pukul) 06.00 (waktu setempat) pagi pada Sabtu hingga 06.00 (waktu setempat) pada Minggu, 9.972 pintu masuk ilegal telah dicegah di daerah Evros," kata sumber pemerintah, merujuk pada wilayah timur laut di sepanjang perbatasan Turki, seperti dikutip dari AFP.

Baca juga: Ghani Tolak Bebaskan Tahanan Taliban

Kerumunan besar mencoba menyeberang ke Yunani melalui Hutan Kastanies pada Minggu (1/3) dini hari. Otoritas Yunani mengatakan 73 imigran telah ditangkap, tetapi mereka bukan dari Idlib, melainkan dari Afghanistan, Pakistan, dan Somalia.

Organisasi untuk internasional, Sabtu (29/2), mengatakan ada sekitar 13 ribu imigran telah berkumpul di sepanjang perbatasan Turki-Yunani.

Pasukan keamanan Yunani pun berpatroli di tepi sungai Evros dan mengeluarkan peringatan melalui pengeras suara untuk tidak memasuki wilayah Yunani.

Pada Sabtu (29/2), bentrokan meletus di sepanjang perbatasan, saat polisi Yunani menembakkan gas air mata ke imigran yang kemudian melemparkan batu ke arah petugas.

Erdogan mengancam akan membuka gerbang Turki bagi sekitar 3,6 juta pengungsi yang ditampung sebagai cara menekan negara-negara UE atas konflik di Suriah.

Pada 2015, Yunani menjadi titik masuk utama Uni Eropa untuk 1 juta imigran. Mayoritas imigran tersebut adalah pengungsi yang melarikan diri dari perang saudara Suriah.

Ketua Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen menyatakan "prihatin" atas gelombang imigran dari Turki ke perbatasan luar blok di Yunani dan Bulgaria.

"Prioritas utama kami pada tahap ini adalah untuk memastikan bahwa Yunani dan Bulgaria mendapat dukungan penuh kami," cuitnya pada Sabtu (29/2). (OL-1)

BERITA TERKAIT