01 March 2020, 19:35 WIB

Sikapi Penyebaran COVID-19, IDI: Tetap Waspada tapi Jangan Panik


Atalya Puspa | Humaniora

PENYEBARAN virus korona baru COVID-19 yang semakin meluas ke banyak negara menjadi perhatian warga Indonesia. Namun, Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Persahabatan Erlina Burhan mengimbau masyarakat tidak panik dan menjalankan aktivitas seperti biasa.

"Waspada tapi jangan panik," kata Erlina kepada Media Indonesia, Minggu (1/3).

Erlina menuturkan, berbagai virus, termasuk COVID-19 dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

"Biasakan cuci tangan setelah beraktivitas, masak daging hingga matang. Laksanakan perilaku hidup bersih dan sehat," tutur Erlina.

Dihubungi terpisah, Sekretaris Ikatan Dokter Indonesia Adib Khumaidi menjelaskan, pada prinsipnya virus akan membuat reaksi pada tubuh apabila kondisi tubuh rentan dan daya tahan tubuh menurun.

Baca juga : Wabah Korona di Tiongkok Mereda, Eijkman: Itu Siklus Epideminya!

Potensi tersebut dimiliki oleh orang usia lanjut, balita, dan orang yang telah memiliki riwayat penyakit stroke, jantung, maupun diabetes.

"Virus itu akan berdampak menimbulkan gejala klinis, kalau kondisi fisik dalam keadaan tidak fit. Makanya pencegahan dengan menerapkan pola hidup sehat sangat penting. Panik malah kemudian membuat keadaan tidak baik," tuturnya.

Di samping itu, Adib juga mengimbau kepada masyarakat untuk menghindari bepergian ke wilayah episentrum ataupun ke kumpulan massa yang berpotensi menjadi tempat penularan virus dari penderita.

"Hindari bepergian ke tempat ramai atau wilayah episentrum bila tidak diperlukan. Pakailah masker jika hendak ke tempat ramai yang berpotensi ada penderita virus. Itu harus disadari masyarakat," ucapnya.

"Bila ada keluhan infeksi pernapasan seperti demam, nyeri tenggorokan dan batuk, segera ke dokter," tandasnya.

Baca juga : Evakuasi WNI ABK Diamond Princess, DPR Apresiasi Pemerintah

Terpisah, Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto mengatakan, untuk mempertahankan status zero case dari COVID-19, pihaknya terus melakukan upaya pencegahan dan surveillance aktif.

Hal itu dilakukan dengan melibatkan pemerintah daerah untuk memantau kesehatan masyarakatnya, khususnya orang yang telah melakukan perjalanan ke wilayah episentrum.

"Kita akan tetap mewaspadai ini. Survilliance aktif dilakukan terus-menerus sehingga orang yang ada gejala dan ada riwayat kontak dengan yang terduga konfirm, misalnya setelah melakukan perjalanan ke negara epicentrum, kita ambil spesimennya untuk dikirim Balitbang," tutur Yurianto.

Untuk diketahui, hingga Minggu (1/3), sebanyak 86.983 pasien telah terinfeksi COVID-19 dari lebih dari 50 negara. Adapun, sebanyak 42.139 pasien berhasil sembuh, dan 2.978 lainnya meninggal dunia. (OL-7)

BERITA TERKAIT