01 March 2020, 07:40 WIB

Istana Negara Pilih Muhyiddin Jadi PM Malaysia


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

RAJA Malaysia Yang Dipertuan Agong Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah telah memilih Tan Sri Muhyiddin Yassin sebagai perdana menteri. Keputusan itu diambil setelah Raja bertemu dengan para pemimpin politik, Sabtu (29/2) pagi.

"Setelah menerima perwakilan dari semua pemimpin partai politik yang mewakili partai masing-masing serta anggota parlemen yang independen, dalam penilaian Seri Paduka Baginda, anggota parlemen yang cenderung mendapatkan kepercayaan mayoritas anggota parlemen ialah YB Tan Sri Mahiaddin bin Md Yasin (Muhyiddin), Pagoh MP (P143)," kata Pengawas Keuangan Rumah Tangga Kerajaan untuk Istana Negara Datuk Ahmad Fadil Shamsuddin, Sabtu (29/2) sore.

"Sejalan dengan itu, Seri Paduka Baginda telah menye-tujui pengangkatan YB Tan Sri Mahiaddin bin Md Yasin (Muhyiddin) sebagai perdana menteri sesuai dengan Pasal 40 (2) (a) dan Pasal 43 (2) (a) dari Konstitusi Federal," terangnya.

Menurut Ahmad, Raja memutuskan bahwa proses penunjukan perdana menteri tidak boleh ditunda karena negara membutuhkan pemerintahan untuk kemakmuran rakyat dan negara.

Raja memutuskan dan ini merupakan hasil terbaik untuk semua. "Yang Mulia berharap krisis politik ini berakhir."

Yang Dipertuan Agong juga menyampaikan apresiasinya dan berterima kasih kepada rakyat Malaysia dan semua yang terlibat.

Muhyiddin pun berharap keputusan Raja tersebut dapat diterima rakyat Malaysia.

"Saya hanya meminta semua warga Malaysia menerima keputusan yang diumumkan oleh Istana Negara," kata Muhyiddin di rumahnya, kemarin.

Menentang individu korup

Saat menanggapi rencana pelantikan Muhyiddin, mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad menegaskan bahwa dirinya menentang segala bentuk kerja sama dengan individu yang diketahui korup dan merupakan bagian dari administrasi kleptokratis.

Mahathir tidak siap untuk bekerja dengan mereka yang korup seperti dari UMNO. "Mungkin Tan Sri Muhyiddin lebih santai terhadap pendekatan ini," jelas Dr Mahathir.

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, mengatakan hubungan Malaysia-Indonesia akan berjalan seperti biasa karena sudah terlahir sinergi lintas aktor di tingkat pusat dan daerah.

"Kedua negara serumpun ini akan bersama-sama menindaklanjuti kesepakatan bilateral yang telah ada," ujar Rezasyah, kemarin.

Menurutnya, hal yang normal jika 'chemistry' antara Muhyiddin dan Presiden Joko Widodo tidak otomatis terbentuk. Namun, itu akan mencair karena negara pertama yang akan dikunjungi Muhyiddin sebagai PM ialah Indonesia.

"Diperkirakan (PM) Muhyiddin dan Presiden Jokowi akan menjunjung tinggi semangat saudara serumpun dan mempertahankannya sebagai inti dari ASEAN," terang Rezasyah.

Diperkirakan dalam enam bulan ke depan, pemerintahan Muhyiddin akan menghadapi kritik internal karena masih banyak anggota parlemen yang kecewa atas tindakan Mahathir menggeser Anwar Ibrahim.

Muhyiddin sebenarnya berada di partai yang sama dengan Mahathir, Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM). Namun, dia bergandengan tangan dengan United Malays National Organisation (UMNO) dan Malaysian Islamic Party untuk memperoleh dukungan sebagai perdana menteri.

Pada pemilu Malaysia dua tahun lalu, UMNO tergabung dalam koalisi Barisan Nasional. Mereka mengusung Najib Razak sebagai PM. (Malay Mail/CNA/Bernama/I-1)

BERITA TERKAIT