01 March 2020, 08:00 WIB

Tantangan Global Buka Peluang Pertumbuhan


Faustinus Nua | Ekonomi

Bank Indonesia menilai tantangan global yang makin bervariasi dapat memberikan peluang bagi otoritas fiskal dan moneter untuk menciptakan kesempatan baru dalam menjaga kinerja perekonomian.

"Tantangan ini memaksa kita berinovasi dan mencari kesempatan di tempat lain agar kita survive," kata Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia IGP Wira Kusuma dalam pelatihan wartawan di Bandung, Jawa Barat, kemarin.

Wira mengatakan penyebaran virus korona yang makin meluas hingga AS dan Eropa dapat membuat pelaku pasar keuangan menjadi resah dan mengganggu proyeksi perekonomian global pada 2020.

Menurut dia, kondisi ini yang membuat otoritas fiskal dan moneter mencari inovasi baru untuk menjaga kinerja konsumsi dan mengundang masuknya aliran modal agar perekonomian nasional tetap berdaya tahan.

"Kita menjaga konsumsi dengan menjaga daya beli dan stabilitas internal. Untuk investasi ada omnibus law dan pengerjaan proyek infrastruktur. Ekspor yang terdampak juga memaksa adanya penguatan manufaktur." ujarnya.

Meski demikian, kata Wira, ketidakpastian yang timbul akibat penyebaran virus korona telah memaksa Bank Indonesia telah mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 dari 5,1%-5,5% menjadi 5,0%-5,4%.

Wira mengatakan salah satu faktor utama yang menyebabkan BI mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi Tanah Air ialah sektor ekspor. Menurut Wira Kusuma, Indonesia sangat bergantung pada ekspor ke Tiongkok yang merupakan asal merebaknya virus korona.

"Kalau kita lihat ekspor total Indonesia ke Tiongkok itu sudah 17% sekitar US429,8 milar. Ekspor migas kita ke Tiongkok sekitar US$3,8 miliar atau 19,8%. Peringkat satu ekspor ke Tiongkok untuk total migas dan nonmigas," ungkapnya

Wira menjelaskan bahwa dampak ekspor itu berkaitan dengan melemahnya sisi permintaan. Selain itu, produk-produk ekspor Indonesia juga berkaitan dengan impor bahan baku. Tiongkok memiliki kontribusi terbesar di sektor tersebut.

"Impor juga demikian, kita juga sangat tergantung pada impor dari Tiongkok. Impor total Indonesia dari Tiongkok itu US$29,4 miliar, sekitar 17,4%, peringkat satu," imbuhnya.

Ketergantungan

Ketergantungan Indonesia pada Tiongkok juga terjadi pada sektor pariwisata, yakni wisatawan mancanegara. Meskipun Tiongkok merupakan negara kedua untuk jumlah kunjungan wisman ke Tanah Air, dari sisi devisa Tiongkok merupakan penyumbang terbesar di sektor itu pada 2019.

"Kunjungan wisman sekitar 2,07 juta orang di 2019, itu sekitar 12,9%. Memang yang kedua dari sisi jumlahnya, tetapi dari sisi devisa dia nomor satu sekitar US$2,4 miliar," jelas Wira.

Begitu pula dengan investasi, Tiongkok merupakan negara kedua setelah Singapura yang melakukan investasi terbanyak di Indonesia. Angka investasinya mencapai US$4,7 miliar atau sekitar 16% dari total investasi pada 2019.

Wira menambahkan ada juga faktor tidak langsung seperti hubungan perdagangan Indonesia dengan negara-negara lainnya yang juga bergantung pada Tiongkok.

Dengan kontribusi sekitar 12,3% terhadap pertumbuhan ekonomi global, pelemahan ekonomi Tiongkok tentu memengaruhi negara-negara lainnya. Apalagi, negara-negara tersebut juga mulai terdampak penyebaran virus korona seperti Singapura dan Malaysia.

"Inilah yang menjadi kalkulasi-kalkulasi sehingga kita akhirnya menurunkan proyeksi ekonomi kita di 2020," kata dia. (Ant/E-3)

BERITA TERKAIT