01 March 2020, 03:55 WIB

Kembali ke Habitat Lama


MI | Weekend

SELAMA enam tahun menjabat sebagai Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Jazi Eko Istiyanto, mengaku mendapat banyak pengalaman tak terlupakan.

Pengalaman itu termasuk awal penunjukannya oleh Menteri Riset dan Teknologi kala itu, Gusti Muhammad Hatta. Jazi mengaku masih ingat betul peristiwa pada 2014 itu.

Jazi dipanggil ke rumah Gusti di Kompleks Widya Chandra, Jakarta, pada Minggu malam. Pria kelahiran Sleman, 18 Oktober 1961, ini, mengatakan jika sudah lama tidak memikirkan nuklir atau lebih tepatnya sejak 1986.

Jazi mengaku jika skripsi sarjananya di Jurusan Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM) memang mengenai reaktor nuklir, tapi sebelum lulus ia mendapat beasiswa ilmu komputer. Begitu lulus, ia mengambil master dan doktoral bidang komputer dan teknik sistem elektronik di University of Essex, Inggris.

Sejak mengambil gelar master itu pula, Jazi mengaku sudah tidak memusatkan perhatian pada bidang nuklir. Saat teman-teman sarjananya mengadakan diskusi mengenai nuklir ataupun insiden terkait dengan nuklir seperti kebocoran reaktor Fukushima pada Maret 2011, Jazi tidak ikut berdiskusi.

"Saya katakan pada Prof Gusti Muhammad Hatta jika saya sudah tidak pernah memikirkan nuklir, saya tidak tahu sama sekali. Tapi beliau (Gusti) mengatakan jika dia sendiri pun merupakan lulusan kehutanan yang kemudian menangani bidang ristek. Katanya, yang kehutanan saja ngerti, masak orang yang punya gelar S-1 Fisika enggak ngerti," tutur Jazi, sambil tersenyum mengenang perjumpaan malam itu.

Ketika akhirnya benar-benar dilantik, Jazi menjelaskan tantangan yang ditemui di Bapeten. Salah satunya yang dirasa krusial ialah mengenai pemanfaatan teknologi informasi (TI).

Jazi yang mendapat gelar guru besar bidang elektronik dan instrumentasi dari UGM pada 2010 menilai jika pemanfaatan TI sangat penting bagi Bapeten untuk menjalankan fungsi tugasnya. Sebab itu, ia lantas mencurahkan waktu untuk mengembangkan pengawasan berbasis TI yang serbatanggap dan cepat.

"Bapeten sebagai lembaga yang bergerak di bidang nuklir harus dapat bekerja dengan cepat dan efisien. Maka dari itu, orang-orang di dalamnya harus bisa mengutamakan responsiveness, tak lagi birokratis atau bekerja lama-lama hingga berlangsung berhari-hari, hingga berbulan-bulan. Ketika ada laporan dari masyarakat pun, Bapeten juga harus mengutamakan respons yang sangat cepat," tambahnya.

Sistem kerja dengan TI itu kemudian mendapat apresiasi dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. "Kita Juara 1 Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik dari Menpan. Di antara lembaga pemerintah kementerian, kita IT-nya paling bagus, paling advance. Karena tidak hanya untuk izin, tetapi inspeksi itu juga sudah dibantu dengan IT," tuturnya.

Lebih lanjut, Jazi menjelaskan bahwa sekarang ini para pemegang izin impor radioaktif tidak perlu repot-repot lagi datang secara rutin ke Kantor Bapeten untuk memberikan laporan. Segala macam laporan, termasuk yang berkaitan dengan keselamatan, sudah dapat diunggah melalui sistem, yang kemudian akan ditinjau inspektur. (Gas/M-1)

BERITA TERKAIT