01 March 2020, 03:05 WIB

Nongkrong, Main, dan Asah Otak


Bagus Pradana | Weekend

DI kafe itu sejumlah pengunjung bukan asyik menikmati kudapan, melainkan justru serius bermain dengan kartu dan menjalankan bidak di papan. Dalam satu kesempatan, mereka bermain menjadi koboi di pedalaman Amerika pada abad ke-19.

Mereka berlomba mengirimkan ternak dari Texas ke Kansas City. Selama perjalanan itu, mereka juga berlomba membangun kota dan menambah kawanan ternaknya. Siapa yang paling sukses mengumpulkan harta-harta itu bisa dilihat dari tumpukan kartunya.

Itulah permainan papan atau board game Great Western Trail yang asik dimainkan pengunjung di Helovesus Cafe, Pluit, Jakarta, Sabtu (8/2). Kafe ini memang jadi tempat langganan berkumpulnya para penggemar board game. Bahkan, sang pemilik, Eddy Winoto, memang sengaja mengubah kafe yang didirikan 2010 itu menjadi sarana kumpul dan menyebarluaskan kecintaan pada board game.

Selain Great Western Trail, board game lain yang dimainkan hari itu ialah Grand Austria Hotel, The Voyages of Marco Polo, dan Terraforming Mars. Dari situ pula terlihat jika board game bukan hanya monopoli dan ular tangga.

Eddy menjelaskan bahkan board game karya dalam negeri pun sudah beragam. Beberapa yang populer ialah Waroong Wars yang berkonsep perlombaan melayani pembeli warung, Wilah yang bertema pemilahan sampah, Roket Raket yang bertema olahraga badminton, hingga Bhinneka yang bertema keragaman suku dan budaya di Indonesia.

Eddy yang berprofesi sebagai guru bimbel mengungkapkan jika ditengah profesi sebagai pengajar, pada 2010, ia mulai serius bermain board game. Ia mulai mengumpulkan berbagai jenis board game untuk ia ajarkan kepada anak-anak bimbingannya sehabis belajar. Saking cintanya terhadap permainan papan ini, kafe yang ia kelola bersama sang istri pun ia ubah menjadi kafe board game. Ia melihat board game, seperti ludo, congklak, catur, dan ular tangga sangat bagus untuk mengasah otak .

“Kami punya koleksi yang hampir mencapai 1.000 lebih judul board game yang bisa dimainkan di kafe ini. Pengunjung bisa datang ke kafe ini dan bermain board game sepuasnya. Jika ada pengunjung yang belum tahu cara memainkannya, akan kita ajari,” tambahnya.
Namun, jadwal penggunaan kafe khusus permainan board game itu hanya di Sabtu, sementara hari lainnya untuk kebutuhan anak didik bimbelnya.


Turnamen berhadiah

Salah satu pelanggan Helovesus yang hari itu asyik bermain ialah Rizky Trisna Putri, mahasiswi berusia 26 tahun, itu, sengaja datang dari Bogor, Jawa Barat.

Kesempatan pertama berkunjung itu senga­ja dilakukan demi mengikuti turnamen board game yang diselenggarakan Helovesus. Perempuan yang biasa dipanggil Rizky ini mengaku mendapatkan info mengenai turnamen di Helovesus dari seorang teman yang ia kenal di komunitas board game yang ia ikuti di Bogor, yang bernama Kabogoh (Komunitas Board Game Bogor).

Dalam turnamen sehari ini, Rizky berhasil mengalahkan teman satu komunitasnya dan berhak mendapatkan hadiah dari Helovesus.

“Menurut saya, main board game ini sangat baik untuk melatih otak, jadi kita akan diajak berpikir strategi dan bisa untuk melatih social skill kita juga. Saya senang banget karena di klub board game seperti ini rata-rata emang orangnya menjunjung tinggi sportivitas karena kan komponen yang kita mainkan banyak, kalau mau curang kan bisa saja karena enggak mungkin kita ngawasin satu per satu,” ujarnya.

Meski beberapa orang menilai permainan tersebut mahal, Rizky merasa kendala uang dapat diakali dengan bergabung ke komunitas board game.

“Di komunitas kita bisa main board game dengan teman-teman karena permainan ini enggak bisa dimainin sendiri, jadi kita tetap harus share permainan ini dengan teman yang lain. Saya pengin board game itu lebih banyak dikenal lagi sama masyarakat karena ini permainan sangat menyenangkan sebagai hobi sosial daripada bermain gim di gadget,” terang Rizky.

Selain Rizky, ada pula Angga Widyastaman hadir, pendiri dari komunitas board game Kabogoh. Pria 30 tahun ini mendapatkan undangan mengikuti turnamen di Helovesus langsung dari Eddy Winoto. Ia memainkan gim Grand Hotel Austria.

Bagi Angga, interaksi organik yang tercipta melalui singgungan langsung dengan teman-temannya ketika bermain board game ialah hal yang tak bisa digantikan platform gim secanggih apa pun. Hal inilah yang kemudian melandasinya mendirikan Kabogoh (Komunitas Board Game Bogor) sebagai salah satu upaya untuk merawat interaksi organik yang kini mulai jadi barang langka tersebut.

“Board game buat saya adalah permainan yang menawarkan interaksi sosial sih, satu hal yang tidak bisa digantikan oleh platform gim digital di Android ataupun komputer. Menurut saya, gim digital tetap enggak bisa ngegantiin interaksi organik yang ditawarkan oleh board game sih, beberapa board game bahkan memaksa kita untuk mengembangkan kemampuan sosial, seperti kerja sama dan diplomasi,” pungkasnya. (M-1)

BERITA TERKAIT