01 March 2020, 02:10 WIB

Mbok Cikrak, Tempat Sampah para TKI


Ramdani | Weekend

DI tengah keramaian Bandara Taoyuan, Taiwan, sosok perempuan itu duduk di troli. Ia sibuk memainkan ponsel pintarnya sambil sesekali memandang keluar menanti orang-orang yang ingin ditemuinya.

Kedatangannya ke bandara internasional bukan untuk menjemput orang terkasih melainkan melepas pekerja migran Indonesia (PMI) yang akan kembali ke Tanah Air dan rutin dilakukan setiap hari.

Pada hari itu sekitar 20-30 orang ia hantarkan memasuki bandara untuk berkumpul dengan keluarga di Indonesia.

Mbok Cikrak, begitu ia dipanggil. Sosok paling kondang saat ini di kalangan buruh migran Indonesia yang bekerja di Taiwan. Dia dikenal hampir 250 ribu buruh migran Indonesia yang bekerja di berbagai sektor informal di negeri itu. Kini ia sudah menetap selama 20 tahun di Taiwan. Bahkan sudah beralih kewarganegaraan.

Berdasarkan artinya, Cikrak berarti tempat menampung sampah. Di mata para PMI, Mbok Cikrak Merupakan tempat mereka berkeluh kesah dan mencari bantuan. Perempuan yang sempat bekerja sebagai PMI mengurus lansia pada tahun 2000 dan agen tiket penerbangan itu awalnya prihatin dengan kondisi PMI yang kerap mendapatkan tindakan yang tidak menyenangkan.

Hatinya pun tergerak untuk membantu para rekannya. Ia pun membantu mereka yang ingin kembali ke Indonesia, bahkan mengunjungi para pahlawan devisa Indonesia yang berada di rumah sakit untuk menjalani perawatan akibat berbagai penyakit yang diderita dan mungkin kabur akibat kekerasan dari majikan.

Lebih dari satu dekade, Mbok Cikrak dengan tanpa lelah membantu teman-temannya yang dalam kesulitan di Taiwan. Mbok Cikrak pun sampai memiliki rumah sewaan yang kerap disebut 'Rumah Harmoni' untuk mereka yang memerlukan bantuan Mbok Cikrak.

Di rumah itu, PMI biasa mencari bantuan hukum untuk menyelesaikan masalah, seperti penyalahgunaan kontrak kesepakatan. Untuk membela para PMI, Mbok Cikrak bahkan tidak takut menjadi penjamin para PMI yang sedang terkendala proses kembali pulang.

Di balik sosoknya yang tegar, ada kesedihan ketika ia melepas para PMI kembali ke Indonesia. Sedih bukan karena kehilangan teman, tapi karena belum bisa bertemu dengan keluarga di Tanah Air.

Kini di balik kesuksesannya, ia rindu akan kehangatan keluarga. Dalam perantauan Mbok Cikrak di negeri orang selama 20 tahun, tumbuh kerinduan yang sangat dalam.

"Saya ingin berkumpul dengan bapak, ibu, dan saudara di Indonesia. Di sini capek sendiri, hampa sendiri. Kalau ada masalah, larinya ke siapa? Kalau di rumah bisa kumpul sama keluarga. Kalau di sini?" ujarnya dengan suara yang bergetar.

"Walaupun setiap hari saya senang, bahagia, tetap masih ada yang ingin dicurahkan dengan keluarga. Saya ingin kehangatan keluarga di Indonesia. Hidup di Indonesia seperti ada artinya. Jiwa saya, hati saya tetap mencintai Indonesia. Saya ingin pulang. Saya ingin pulang. Saya rindu mendengar setiap saat azan berkumandang," pungkasnya. (M-1)

BERITA TERKAIT