01 March 2020, 00:10 WIB

Siulan yang Menjelma Angin Gunung


Furqon Ulya Himawan | Weekend

SAYUP terdengar suara rapalan mantra atau lantunan pujian secara beriringan di kegelapan malam itu. Suara-suara itu terus menyeru merayap memenuhi ruangan, makin bergemuruh laksana angin di gunung yang mendesir. Sejurus kemudian terdengar suara dentuman yang ikut menyertainya.

Suara itu makin kencang dan terdengar nyaring. Perlahan terlihat jelas asal-usul suara-suara itu ketika lampu mulai menyorotnya. Tampak 11 orang meriung di atas panggung. Merekalah sumber suara itu, merekalah yang meramu suara-suara itu hingga menjadi alunan musik yang menyerupai rapalan mantra.

Alunan musik itu semakin hidup ketika suara calung Bali, bonang, reong, gendang, dan saron mulai dibunyikan. Lengkingan suara vokal yang mendayu semakin membawa alunan musik masuk jauh ke relung hati. Hingga pada menit ke-4, musik mulai melandai. Musik terdengar santai ala jazz dan gaya vokalisnya yang ala keroncong. Lalu, terdengar suara dari sang vokalis,

"Gunung terdiam tawarkan kesunyian. Berdiri kukuh dan tak kan pernah goyah. Menjulang tinggi laksana saka guru. Agung di tengah samudra nan biru."

"Semilir sang bayu mendayu-dayu. Memanggilmu penuh rindu. Semilir sang bayu mendayu-dayu. Mendekapmu penuh haru."

Seusai suara itu berhenti, terdengar lagi suara rapalan mantra atau lantunan pujian secara beriringan kembali mengalun dan diiringi suara calung Bali yang membawa alunan musik kembali energik dan bersemangat.

Roh alunan musik malam itu benar-benar terasa progresif dan terus menderu selama 6 menit. Gemuruhnya laksana angin gunung dan terus mengalun rancak penuh semangat memenuhi ruangan Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), pada Selasa (25/2).

"Semoga kesejukan Angin Gunung bisa menyertai kita semua dan menyejukkan Pak Djaduk yang berada di surga," kata Silir Pujiwati, vokalis KUA Etnika.

Begitulah sepenggal alunan musik di Ibadah Musikal 100 Hari Djaduk Ferianto. Sebuah acara yang diselenggarakan khusus untuk memperingati 100 hari meninggalnya Djaduk Ferianto, aktor dan seniman musik yang sekaligus mendirikan KUA Etnika.

Angin Gunung adalah aransemen musik teranyar dari KUA Etnika. Sebuah musik yang lahir dari siulan Djaduk Ferianto saat berada di Table Mountain Afrika Selatan pada September 2019, dua bulan sebelum dia meninggal pada November 2019.

Di malam Ibadah Musikal 100 hari meninggalnya Djaduk Ferianto, Butet Kartaredjasa, kakak Djaduk, bercerita. Saat itu Butet bersama Djaduk pergi ke Johannesburg dan Cape Town Afrika Selatan, mempersiapkan keikutsertaan KUA Etnika dalam Cape Town Jazz Festival pada Maret 2020.

"Kami naik ke puncak Table Mountain. Di sana dia menemukan kegembiraan. Wis ketemu... Wis ketemu... melodinya. Dia lalu bersiul-siul dan direkam dengan gawainya," ujar Butet menceritakan kegembiraan adiknya saat menemukan melodi untuk aransemen musik yang akan dipentaskan di Cape Town Jazz Festival.

Sepeninggal Djaduk, siulan itu diramu para pemain musik KUA Etnika. Jadilah komposisi musik berjudul Angin Gunung yang rancak dengan banyak jenis alat musik dari berbagai Nusantara, khas permainan musik KUA Etnika.

Malam itu tak hanya Angin Gunung yang menjadi lagu anyar teranyar aransemen KUA Etnika. Lagu berjudul Dua Benua dan Nguntapke, juga menjadi daftar lagu paling gres dari KUA Etnika. Kedua musik itu sama-sama rancak, khas aransemen musik-musik KUA Etnika yang selalu memasukkan unsur-unsur musik daerah bergaya jazz dan keroncong.

"Lewat komposisi yang kami tampilkan malam ini, KUA Etnika membuat karya baru, khusus buatmu (Djaduk Ferianto). Kami bersama-sama Nguntapke, mengantarkan tidur panjangmu (Djaduk Ferianto), di tempat peristirahatan terakhir dengan keikhlasan, dengan senyuman," ujar Silir sebelum melantunkan lagu Nguntapke di malam Ibadah Musikal 100 Hari Djaduk Ferianto.

Ketiga lagu teranyar itu nantinya dipentaskan di Cape Town Jazz Festival, 27 Maret 2020.

 

Menjaga nyala api

Nyala cahaya gawai memancar di seluruh ruangan Concert Hall TBY. Sayup suara lantunan lagu Lilin-Lilin Kecil mengalun dari tengah-tengah bangku pengunjung Ibadah Musikal 100 Hari Djaduk Ferianto.

Sosok berambut panjang terurai sebahu, berdiri dan maju ke depan naik panggung, James Freddy Sundah. Sambil memegang microphone, James menyanyikan lagu Lilin-Lilin Kecil karyanya yang dipopulerkan Chrisye.

James adalah Djaduk Ferianto dalam berkarya. Mereka pernah bersama-sama menanam kembali pohon yang kayunya bisa untuk membuat alat musik kolintang. Dari situlah James mengenal Djaduk sebagai sosok seniman musik yang tak konsisten pada jenis musik-musik etnik khas Nusantara. James juga mengetahui bagaimana perjuangan Djaduk mengumpulkan musik-musik khas Nusantara dari Aceh sampai Papua.

"Indonesia sebenarnya kaya. Musik seperti KUA Etnika di luar negeri mana bisa mereka, tidak ada di sana," ujar James seusai berkolaborasi dengan KUA Etnika menyanyikan lagu Lilin-Lilin Kecil.

Seperti lagu yang baru saja dibawakannya, James berharap karya-karya Djaduk Ferianto tetap menyala dan terus lestari sehingga bisa menyinari dunia. "Mas Djaduk boleh pergi, tapi karya-karyanya jangan," ujarnya.

Selain James F Sundah, seniman dan pemain musik yang ikut tampil di Ibadah Musikal malam hari itu, seperti Endah Laras membawakan lagu Ulan Andung-Andung berkolaborasi dengan KUA Etnika, Soimah Poncowati membawakan lagu Sintren berkolaborasi dengan KUA Etnika, Ricard Hutapea, Syaharani, Teater Gandrik, Tricotado, Mucichoir-Jazz Mben Senen, dan Tashora yang berkolaborasi dengan KUA Etnika membawakan lagu Tatap, dan mereka semua tampil begitu energik, penuh semangat, dan tanpa tangisan.

"Ini adalah malam Ibadah Kebudayaan. Dan hari ini kita janji, tidak boleh ada yang menangis. Biarlah Djaduk pergi penuh kegembiraan. Djaduk boleh pergi, Djaduk boleh meninggalkan kita semua, tapi kalian hendaknya mewarisi apinya bukan cuma abunya," ujar Butet. (M-4)

BERITA TERKAIT