29 February 2020, 03:05 WIB

Raja Minta tidak Ada Sidang Khusus


Nur Aivanni | Internasional

RAJA Malaysia telah mengonfirmasi bahwa tidak akan ada sidang parlemen khusus yang digelar pada Senin (2 Maret) mendatang. Untuk penentuan perdana menteri berikutnya, pemimpin partai akan diminta untuk mengajukan kandidat mereka.

Hal itu disampaikan oleh Pengawas Keuangan Keluarga dan Rumah Tangga Kerajaan Ahmad Fadil Shamsuddin dalam sebuah pernyataan, Jumat (28/2).

Ia mengatakan Raja Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah setuju dengan keputusan Ketua Parlemen Mohamad Ariff Md Yusof yang menolak seruan Mahathir Mohamad terkait sidang parlemen khusus.

"Istana akan berhubungan dengan para pemimpin dari semua partai politik yang memiliki perwakilan di parlemen untuk memberikan mereka kesempatan untuk mengajukan seorang kandidat yang akan dicalonkan sebagai perdana menteri berikutnya," katanya, seperti dikutip dari Channel News Asia, Jumat (28/2).

Pernyataan istana itu merupakan kesimpulan dari konsultasi dua hari dengan semua anggota parlemen di negara itu pasca-Mahathir mengundurkan diri sebagai perdana menteri.

Namun, Raja mencatat bahwa ia tidak dapat mengidentifikasi anggota parlemen yang menguasai mayoritas di DPR.

 

Standing order

Senada dengan Raja, Ketua Dewan Rakyat (Parlemen) Malaysia Mohamad Ariff Md Yusof mengatakan telah menerima surat dari Mahathir yang menyatakan bahwa pemerintah telah menyetujui pertemuan parlemen khusus, Senin (2/3).

Namun, ia mengatakan bahwa surat itu tidak sesuai dengan Standing Order 11 (3). "Standing Order 11 (3) menetapkan bahwa hanya saya sebagai pembicara Dewan Rakyat yang dapat mengeluarkan pemberitahuan rapat," katanya.

Mohamad Arif menambahkan bahwa pertemuan khusus tentang penunjukan perdana menteri seharusnya diadakan hanya setelah perintah resmi dikeluarkan oleh Raja Malaysia.

"Karena itu, saya telah memutuskan bahwa tidak ada pertemuan khusus yang akan diadakan pada Senin (2 Maret)," katanya.

Sebelumnya, Perdana Menteri interim Mahathir mengatakan bahwa raja tidak dapat menemukan sosok yang bisa memimpin mayoritas berbeda setelah dua hari berkonsultasi dengan anggota parlemen.

Karena itu, kata Mahathir, sidang parlemen khusus akan diadakan pada Senin mendatang untuk menentukan perdana menteri berikutnya.

Secara terpisah, Parti Pribumi Bersatu Malaysia mengeluarkan pernyataan pada Jumat (28/2) sore yang menyuarakan dukungannya kepada Muhyiddin Yassin untuk menjadi PM berikutnya.

Keputusan itu diambil berdasarkan hasil pertemuan yang dihadiri 36 anggota parlemen dari Bersatu.

Di sisi lain, Koalisi Pakatan Harapan di Johor telah menunjuk Ketua Amanah di Johor, Aminolhuda Hasaan, sebagai koordinator PH di negara bagian Johor.

Ketua PKR Johor, Syed Ibrahim Syed Noh, mengatakan keputusan untuk menunjuk koordinator itu dibuat setelah berdiskusi bersama anggota dewan PH. "Penunjukannya (Aminolhuda) penting karena kami membutuhkan seseorang yang dapat mengoordinasikan kegiatan PH Johor," katanya.

Koalisi PH di Johor mengklaim bahwa koalisi baru atas Barisan Nasional dan Bersatu tidak memiliki dukungan mayoritas karena koalisi PH Johor juga memiliki jumlah 28 kursi yang sama. (Channel News Asia/Bernama/I-1)

BERITA TERKAIT