28 February 2020, 19:47 WIB

KLHK Fokus Rehabilitasi Hutan dan Lahan


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

Terkait turunnya daya dukung Daerah Aliran Sungai (DAS) yang menyebabkan banjir, longsor, erosi, dan lainnya, KLHK melalui Ditjen PDASHL akan fokus melakukan rehabilitasi hutan dan lahan (RHL).

Hingga akhir tahun 2019 lalu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar mengatakan pihaknya fokus pada kegiatan penyediaan bibit untuk RHL.

Tercatat telah terbentuk sebanyak 561 kebun bibit desa (KBD) yang menghasilkan 23,5 juta batang bibit, 1.500 kebun bibit rakyat (KBR) yang menghasilkan 50,9 juta batang bibit, sebanyak 50,2 juta batang persemaian permanen, sebanyak 4,6 juta batang bibit produktif, dan sebanyak 650 ribu batang Macadamia.

''Keterlibatan masyarakat dalam rehabilitasi ini sangat penting, karena ratusan juta bibit ini benar-benar harus ditanam. Itu yang terpenting,'' kata Menteri Siti dalam agenda Rapat Kerja Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Rakernas KLHK) di Yogyakarta, Jumat (28/2).

Untuk kegiatan RHL tahun 2020, KLHK melalui Ditjen PDASHL akan membangun 1.000 unit KBR, 500 unit KBD, 3.000 unit bangunan konservasi tanah dan air, membangun persemaian modern di Ibu Kota Negara Baru dan 4 destinasi wisata prioritas.

''Lakukan segera kerja terutama di areal bencana, termasuk kegiatan pasca bencana seperti membangun DAM penahan, gullypug, bronjong pengendali tebing sungai, serta dengan menanam vetiver dan agroforestry,'' sebutnya.

Pada sesi hari pertama Rakornas KLHK, Menteri Siti Nurbaya dan Wakil Menteri Alue Dohong memimpin langsung diskusi dengan lebih dari seribu peserta yang berasal dari seluruh Indonesia.

Para Dirjen KLHK memaparkan materi di dua sesi utama yakni pemulihan lingkungan dan rehabilitasi, serta TORA dan Perhutanan Sosial.

''Manfaatkan kesempatan pertemuan ini untuk saling berinteraksi, karena semangatnya adalah kebersamaan. Tidak boleh lagi memisahkan diri dalam hubungan pusat dan daerah,'' tegasnya.

Rakernas berlangsung dua hari dan dihadiri sekitar seribu peserta, berasal dari jajaran KLHK, UPT, Dinas Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan dari seluruh Indonesia.


Hari kedua
Pada hari kedua atau hari terakhir Rakornas KLHK, akan dilaksanakan tiga sesi lanjutan. Sesi pertama mengangkat isu pengelolaan sampah dan limbah, dengan narasumber Dirjen PSLB3, Dirjen PPKL, Dirjen KSDAE, dan Dirjen PHLHK.

Selanjutnya sesi kedua, mengangkat tema NDC dan carbon pricing, dengan narasumber Dirjen PKTL, Staff Ahli Menteri bidang Industri dan Perdagangan Internasional, Dirjen KSDAE, Dirjen PSLB3 dan Kepala BLI.

Pada sesi terakhir sebagai penutup, secara khusus akan mengangkat tema mengenai RUU Omnibus Law yang langsung dimoderatori Menteri LHK, dengan narasumber Sekjen KLHK, Prof.San Afri Awang, Prof. Hariadi Kartodihardjo, Prof. Mustofa Agung Sardjono, Prof. Asep Warlan Yusuf, dan Dr.Ir.Ilyas Assad.

Sebelumnya, KLHK tahun ini siap membangun sebanyak 179 unit kebun bibit desa dan kebun bibit rakyat di daerah aliran sungai (DAS) Solo dan DAS Serayu, Jawa Tengah (Jateng).

"Pemerintah akan terus melakukan secara intensif upaya rehabilitasi lingkungan untuk semakin mengurangi lahan kritis," tutur Menteri Siti Nurbaya, beberapa waktu lalu.

Ditegaskan Menteri Siti Nurbaya, keberhasilan upaya revitalisasi tersebut perlu didukung suplai bibit tanaman melalui kebun bibit desa yang harus dibentuk di tempat-tempat yang harus dilakukan rehabilitasi.

Di Desa Jatisari,Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, telah dibangun kebun bibit desa oleh Kelompok Mulyo Jati, dengan kapasitas bibit 60 ribu batang. Kini terdapat otal ada 82.500 batang termasuk bibit tanaman yang telah ditanam masyarakat bersama Presiden Joko Widodo.

Untuk jenis tanamannya terdiri dari klengkeng (1.250 batang), durian (1.500 batang), alpukat (2.750 batang), petai (2.750 batang), sirsak (5.000 batang), jambu mete (5.000 batang), jengkol (2.000 batang), sengon laut (38.250 batang), sukun (1.000 batang), gayam (1.000 batang), beringin (1.000 batang), vetiver (17.000 batang) dan porang (4.000 batang).

Selain itu, diketahui saat ini tercatat sekitar 14 juta hektare lahan kritis dan sejak 2019 telah mendapat perhatian khusus dari Presiden. Penanaman lahan kritis telah pula melibatkan pihak swasta, khususnya swasta usaha pertambangan seluas lebih kurang 200 ribu hektare.

Penamanan lahan kritis yang dilakukan perusahaan pertambangan telah sesusi dengan Peraturan Pemerintah (PP)  Nomor 76 tahun 2008 tentang rehabilitasi dan reklamasi hutan dan revegetasi pada lahan kritis bekas tambang. (Fer/OL-10)

BERITA TERKAIT