02 March 2020, 07:30 WIB

Awas, Kurang Makan Buah dan Sayur dapat Memicu Gangguan Kecemasan


Melalusa Susthira K | Weekend

PENELITIAN baru-baru ini menyebut bahwa kekurangan asupan sayur dan buah juga berdampak buruk bagi kesehatan mental. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health itu menyebut bahwa asupan sayur dan buah yang rendah bagi orang dewasa dapat meningkatkan risiko terkena gangguan kecemasan.

Temuan tersebut diperoleh oleh tim penelitian dengan menganalisis data dari Canadian Longitudinal Study on Aging yang mencakup 26.991 pria dan perempuan, berusia antara 45 hingga 85 tahun.

"Bagi mereka yang mengkonsumsi kurang dari 3 sumber buah-buahan dan sayuran setiap hari, ada setidaknya 24% peluang lebih tinggi untuk didiagnosis gangguan kecemasan," terang penulis utama penelitian dari Kwantlen Polytechnic University (KPU), Karen Davison, dilansir medicalexpress.com, Kamis (27/2).

Temuan itu juga menyebut, kurangnya asupan buah dan sayur di sisi lain berkaitan erat dengan lemak tubuh yang lebih tinggi. Adapun peningkatan lemak tubuh tersebut kemungkinan terkait dengan peradangan yang lebih besar. Sementara dari penelitian menunjukkan bahwa beberapa gangguan kecemasan terkait dengan peradangan itu sendiri.

“Karena kadar total lemak tubuh meningkat di atas 36%, kemungkinan gangguan kecemasan meningkat lebih dari 70%," jelas rekan penulis penelitian, Jose Mora-Almanza.

Di samping itu, prevalensi gangguan kecemasan juga berbeda berdasarkan jenis kelamin, status perkawinan, status ekonomi, status imigran, hingga beberapa masalah kesehatan. Berdasarkan jenis kelamin, disebutkan bahwa perempuan lebih rentan terkena gangguan kecemasan dibandingkan laki-laki. Dengan rasio kerentanan 1:9 perempuan terkena gangguan kecemasan, sedangkan bagi laki-laki 1:15.

Adapun prevalensi gangguan kecemasan berdasarkan status perkawinan, mereka yang selalu melajang 13,9 % lebih rentan terkena gangguan kecemasan, dibandingkan mereka yang hidup berpasangan - yang hanya rentan 7,8 %  terhadap gangguan kecemasan.

Tak hanya itu, pendapatan juga menjadi salah satu faktor yang dapat menyumbang gangguan kecemasan. Sekitar satu dari lima responden dengan pendapatan rumah tangga di bawah $ 20 ribu per tahun memiliki gangguan kecemasan, prevalensi tersebut merupakan dua kali lipatnya dari prevalensi mereka yang kaya atau berpendapatan lebih tinggi.

“Kami tidak terkejut menemukan bahwa mereka yang berada dalam kemiskinan memiliki prevalensi gangguan kecemasan yang begitu tinggi; berjuang untuk mendapatkan hal dasariah seperti makanan dan tempat tinggal, menyebabkan stres tanpa henti dan secara inheren memicu kecemasan," ungkap rekan peneliti dari MacEwan University, Hongmei Tong.

Mereka yang memiliki masalah kondisi kesehatan dan nyeri kronis juga memiliki prevalensi lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang bebas dari sakit. Namun salah satu hasil penelitian tersebut menampakkan hal yang kontra-intuitif, bahwa imigran yang datang ke Kanada justru memiliki prevalensi kerentanan yang lebih rendah terkena gangguan kecemasan dibandingkan mereka yang lahir di Kanada. (M-1)

BERITA TERKAIT