28 February 2020, 18:50 WIB

Apakah Minum Kopi Baik untuk Tubuh?


Fatry Wuryasti | Weekend

MINUM kopi kini sudah seperti rutinitas. Namun bagaimana soal dampak kesehatan?

Laura Schmidt, seorang profesor di Fakultas Kedokteran Universitas California San Francisco, Amerika Serikat, mengungkapkan jika yang justru dikhawatirkan bagi kesehatan adalah tren minum kopi manis.

"Kopi manis adalah salah satu hal yang mendorong industri minuman di masyarakat sekarang. Konsumen telah beralih dari soda ke kopi manis untuk alasan kesehatan. Tapi orang harus lebih khawatir tentang gula mereka masukkan ke dalam kopi," kata Laura Schmidt,  dilansir situs CNA Life Style, Sabtu (22/2).

Industri kopi telah meledak sejak tahun 90-an dengan menambahkan satu sendok makan krim atau susu, dan satu sendok teh gula.

Kopi manis dan teh adalah sumber gula terbesar ke empat dalam diet orang dewasa, menurut survei Oktober dari USDA. Para ahli mengatakan beberapa minuman ini tidak ada kaitannya dengan secangkir kopi hitam 2-kalori di masa lalu. Keberadaannya justru mengganggu kesehatan.

Sementara soal kopi hitam, dalam jumlah sedang, dikatakan baik untuk kebanyakan orang. Jumlah itu sekitar 3 sampai 5 cangkir, atau hingga 400 miligram kafein.

Cara menyiapkan kopi juga memiliki pengaruh pada rasa dan senyawa. Memanggang, misalnya, mengurangi jumlah asam klorogenat, tetapi senyawa antioksidan lainnya terbentuk.

Namun minyak dalam kopi yang direbus menghasilkan senyawa yang meningkatkan LDL, dan kolesterol jahat. Tiap jenis kopi juga memiliki jumlah kafein yang berbeda. Kafein pada varian genetik tertentu dapat memperlambat metabolisme.

Kafein adalah obat psikoaktif, dan kopi adalah sumber makanan terbesarnya. Kafein dalam jumlah sedang dapat menyegarkan Anda, meningkatkan suasana hati, energi, kewaspadaan, konsentrasi, dan bahkan kinerja aktivitas. Rata-rata, dibutuhkan empat hingga enam jam untuk memetabolisme setengah kafein.

Tapi dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan keracunan kafein, kegugupan, dan detak jantung yang tidak teratur. Mengurangi kopi juga dapat membantu refluks gastroesofagus.

"Saya pikir kafein sangat umum dan sudah tertanam dalam budaya kita, dan kebiasaan sehari-hari, sehingga kita sering tidak menganggapnya sebagai sumber masalah yang potensial," kata Mary M Sweeney, asisten profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins. (M-1)

 

BERITA TERKAIT