28 February 2020, 08:30 WIB

Kapitalisme dan Terorisme Usik Negara


Indriyani Astuti | Politik dan Hukum

NEGARA sekarang ini dihadapkan pada gangguan perang kapitalisme dan terorisme. Untuk menghadapinya, bangsa Indonesia tidak boleh lagi mempersoalkan fundamen negara.

Demikian dikemukakan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD  dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII di Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, kemarin. Kongres akan berlangsung hingga esok.

"Sekarang tidak ada lagi perang ideologi, tetapi perang kapitalisme dan terorisme sangat mengganggu dunia termasuk Indonesia," ujar Mahfud.

Menurut Mahfud, perang kapitalisme timbul di tengah persaingan global dan pasar bebas. Adapun terorisme merebak karena paham-paham radikal yang kerap mempertentangkan Pancasila dan agama.

Mahfud menegaskan Pancasila dan agama tidak perlu lagi dipertentangkan karena memiliki korelasi dalam menjalankan kehidupan bernegara. "Pancasila dan agama merupakan (hal) fundamental, kita tidak lagi mempersoalkan yang fundamen karena itu tidak akan berubah," ujarnya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu mengingatkan Pancasila ialah ideologi yang merupakan hasil pemikiran dan ramuan semua ide agama dan kepentingan para pemeluknya.

KUII VII mengangkat tema Strategi perjuangan umat Islam Indonesia untuk mewujudkan NKRI yang maju, adil, dan beradab. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan Indonesia maju tidak akan bisa dicapai jika situasi dan kondisi tidak kondusif.

"Karena itu, kita harus mencegah kemungkinan adanya kelompok-kelompok yang keluar dari komitmen kebangsaan ini. Harus mencegah timbulnya radikalisme maupun sikap intoleran," pesan Wapres seperti dikutip dari siaran pers Sekretariat Wakil Presiden, kemarin.

Wapres memaparkan radikalisme tidak menyangkut pakaian, tetapi terkait dengan cara berpikir, bersikap atau berperilaku, dan cara bertindak. Upaya-upaya yang harus dilakukan ialah meluruskan  ketiga aspek.

"Karena itu, perlu upaya-upaya yang lebih intensif tentang kontraradikalisme dan deradikalisme," ujarnya.

Lebih lanjut, Ma'ruf mengatakan Kongres Umat Islam ikut berkontribusi positif dengan terus meningkatkan sumber daya manusia dan  kesejahteraan masyarakat.

Wapres berharap pengurus Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan KUII  dapat menguatkan harmoni pergerakan umat Islam Indonesia. Mereka diharapkan mengawal kiblat bangsa agar arah pembangunan nasional senantiasa sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.

 

Ikrar setia

Sejak awal 2020, sebanyak 29 narapidana terorisme telah menyatakan sumpah setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dijen Permasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Sri Puguh Utami mengatakan target tahun ini total 48 narapidana terorisme berikrar setia kepada NKRI.

Adapun hingga Desember 2019, sebanyak 116 narapidana terorisme telah berikrar setia. Sri mengatakan pendekatan terhadap napi terorisme dilakukan secara intensif.

"Di hadapan para hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang selama ini mungkin tidak mudah, teman-teman sering memanggil thogut dan seterusnya. Kami bersyukur sekali bahwa pada akhirnya mereka bisa berikrar, dan mudah-mudahan lebih dari yang ada sekarang," ucap Sri di Jakarta, kemarin. (Ant/P-2)

BERITA TERKAIT