28 February 2020, 08:20 WIB

Dialog Antarumat Solusi Meredam Konflik


Putri Rosmalia Octaviyani | Politik dan Hukum

UNTUK menuntaskan persoalan menyangkut agama dengan bijaksana dan berimbang, dialog antarumat beragama harus dilakukan secara konsisten. Tidak hanya melibatkan organisasi agama di dalam negeri, tetapi juga internasional.

Hal ini dikemukakan Ketua MPR Bambang Soesatyo dalam seminar bertema Beragama yang harmonis dan konstruktif yang menguatkan kehidupan berbangsa dan bernegara, di Gedung MPR Jakarta, kemarin.

Menurut Bambang, MPR hendak menegaskan Indonesia ialah negara yang memiliki beragam agama, suku, dan ras yang memegang teguh nilai-nilai luhur Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

"Tidak berlebihan apabila seminar ini menghimpun pemikiran sekaligus upaya elemen masyarakat, khususnya organisasi keagamaan untuk membangun dan mewujudkan suasana kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis, bersatu, adil, dan makmur," kata Bamsoet, panggilan akrab Bambang, dalam seminar yang dihadiri Sekjen Liga Muslim Dunia, Mohammad bin Abdulkarim Alissa.

Dengan seminar itu, Bamsoet berharap dapat dirumuskan gagasan mengenai peran dan kontribusi Indonesia sebagai negara majemuk dalam mewujudkan amanat konstitusi untuk melaksanakan ketertiban dunia.

"Karena perbedaan merupakan keniscayaan, tidak perlu dipertentangkan. Untuk itu, dialog yang lapang di antara pemeluk agama harus dilakukan agar terbangun kesepahaman dan terhindar dari sikap saling curiga. Apalagi, permusuhan," lanjut Bamsoet.

Di sisi lain, Sekjen Liga Muslim Dunia Mohammad bin Abdulkarim Alissa mengatakan kondisi dunia yang semakin penuh dengan persoalan membuat komitmen menjaga kedamaian harus dilakukan semua pihak.

"Itu bisa menjadi sabuk keselamatan untuk menghadapi tantangan saat ini," ujar Mohammad.

Dia juga berharap Liga Muslim Dunia berkomitmen menjaga kedamaian di tengah keberagaman. Salah satunya melalui pembuatan regulasi yang tepat.

"Harus membuat aturan atau perundang-undangan untuk mencegah pelecehan agama dan seluruh etnik yang dapat memicu konflik," tandasnya. (Pro/X-3)

BERITA TERKAIT