28 February 2020, 06:20 WIB

Menyemai Sukma


IGK Manila Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem | Opini

KENDURI Kebangsaan--kegiatan silaturahim tokoh-tokoh nasional, terutama yang berasal dari Aceh, para pejabat, dan tokoh daerah, serta ribuan masyarakat Aceh--telah selesai dilaksanakan pada 20 Februari lalu. Presiden Joko Widodo, yang pernah bekerja sebagai karyawan di Aceh pada 1986-1988, menjadi tamu istimewa.

Acara yang berlangsung di Sekolah Sukma Bangsa Biereun tersebut menjadi momentum yang menyejukkan pasca-Pemilu 2019. Keterbelahan politik yang berunsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di hampir sepanjang 2019 seperti pupus.

Semua hati dan pikiran dari mereka yang hadir kembali pada upaya membangun Aceh sebagai wilayah yang menjadi representasi perjuangan panjang nasionalisme Indonesia.

Saya sendiri berkesempatan hadir dalam acara itu, baik sebagai politikus, purnawirawan TNI, maupun pribadi warga negara, saya amat bersyukur. Kenduri Kebangsaan menjadi momentum yang menunjukkan bahwa Aceh, dengan semua dinamika sosio-politik yang khas, berpotensi besar dalam berkontribusi bagi kemajuan bangsa ini.

Di atas semua itu, hal yang paling menarik hati saya ialah bagaimana kegiatan besar ini diselenggarakan di sebuah kompleks sekolah dan melibatkan para guru, murid, dan masyarakat dalam jumlah yang besar. Kenduri Kebangsaan seperti hendak mengajak semua warga yang peduli dengan bangsa ini untuk kembali kepada titah konstitusional UUD 1945, 'mencerdaskan kehidupan bangsa'.

Sekolah yang ketempatan ialah Sekolah Sukma Bangsa, salah satu ikon pembangunan pendidikan Aceh pascatsunami 2004. Dalam bacaan saya, meskipun sejauh ini baru berlokasi di tiga wilayah, Sigli-Biereun-Lhokseumawe, yang mana di setiap lokasi terdapat SD, SMP, dan SMA, lembaga pendidikan yang dibangun sebagai strategic response pascatsunami tersebut telah menyemai serta menyebar konsep dan praktik pendidikan yang kuat dan berkarakter, baik di Aceh maupun wilayah lainnya.

Terkait dengan pembangunan sekolah ini, secara moral dan finansial partisipasi masyarakat dalam membantu korban tsunami yang dikumpulkan melalui program Indonesia Menangis MetroTV, tentulah berkontribusi besar. Demikian juga dengan berbagai upaya yang telah dilakukan Media Group melalui Yayasan Sukma untuk memastikan kesembilan sekolah ini tetap berjalan hingga kini.

Akan tetapi, hemat saya, ketika tanggap darurat pendidikan dilakukan bukan hanya oleh pemerintah, melainkan juga lembaga-lembaga dari berbagai dunia serta perorangan, keberlanjutan dari gagasan besar tentang pendidikan seutuhnya ialah nyawa yang telah menjadikan sekolah ini terus bertahan dan berkembang.

Sekolah Sukma Bangsa telah menjadi tonggak dari sebuah cita-cita keberlanjutan bangunan sosial yang utuh. Ia tak hanya menjadi rumah bersama bagi anak-anak yang harus menjadi insan terdidik, tetapi juga menjadi simbol sosial yang berfungsi sebagai anchor bagi pembangunan harmoni dan kecerdasan sosial di Aceh.

Melampaui kemegahan fisik dan berbagai fasilitasnya, Sekolah Sukma Bangsa menjadi lahan perjuangan para pendiri, pengelola, guru, murid, orangtua, dan masyarakat di sekitarnya untuk terus memperjuangkan keacehan dalam bingkai keindonesiaan. Tentu saja termasuk di dalamnya keagamaan yang menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Sebagai sebuah refleksi, di tengah dinamika pendidikan Indonesia yang terus mengalami pancaroba, apa yang telah dilakukan Sekolah Sukma Bangsa dan orang-orang yang tegak di belakang pembangunan dan pengelolaannya patut ditiru, disebarluaskan, dan ditularkan.

Tak ada salahnya jika lembaga, perorangan, bahkan pemerintah sekalipun, belajar dari pengalaman Sekolah Sukma Bangsa dan membangun sekolah-sekolah serupa di berbagai wilayah di Tanah Air.

Jika sekolah-sekolah serupa hendak dikembangkan atau didirikan di berbagai wilayah lain di Indonesia, saya ingin menyampaikan bahwa tiga hal tak boleh luput sama sekali, yakni aspek keindonesiaan, keagamaan, dan lokalitas (keacehan dalam konteks Sekolah Sukma Bangsa). Itu karena dalam pandangan saya, selain menjadi sokoguru berbangsa-bernegara, ketiga hal ini justru menjadi rumah yang mana perkembangan kecerdasan individual dan sosial menjadi mungkin.

Keacehan-keagamaan-keindonesiaan

Pendidikan dalam pandangan Lev Vygotsky (1896-1934), ahli psikologi yang sampai saat ini menjadi salah satu sumber inspirasi pendidikan di seluruh dunia, harus dilaksanakan dalam satu konteks sosial yang mana dimungkinkan terjadi rangkaian demi rangkaian interaksi.

Dialektika intensif dalam konteks sosial, yang mana peran bahasa sangat menentukan, akan menjadi faktor utama perkembangan kecerdasan dan daya kreativitas.

Pendidikan karakter dan kewarganegaraan, sebagai contoh, dua di antara pekerjaan rumah kita di Indonesia, juga hanya menjadi mungkin jika dilakukan dengan cara ini.

Konsep-konsep kebajikan, individual, dan sosial tak akan banyak berarti jika sekadar untuk dihafal dan diujikan. Sebaliknya, konsep-konsep tersebut harus dipahami dari praktik di dunia nyata dan dimatangkan melalui dialektika terus-menerus dalam lingkungan masyarakat yang mana para murid menjalani kehidupan.

Dalam praktik Sekolah Sukma Bangsa, yang layak dicontoh lembaga pendidikan mana pun, terdapat tiga konsep sekaligus konteks para murid 'diceburkan'. Seperti disebutkan sebelumnya, konteks itu ialah keacehan, keagamaan, dan keindonesiaan.

Keacehan ialah representasi dari konteks lokal Sekolah Sukma Bangsa berdiri dan dari mana sebagian besar muridnya berasal. Menegasi atau bahkan menukar keacehan ialah hal mustahil dan akan membuat pendidikan di Aceh tak punya rumah sosio-budaya.

Mengikuti pemikiran Vygotsky, tanpa rumah sosio-budaya tersebut, pendidikan yang dicita-citakan sebagai cara mencerdaskan murid dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat tak akan terwujud.

Keagamaan, selanjutnya, dalam hal ini keislaman sebagai agama yang telah ratusan tahun menyatu di kehidupan sosio-budaya masyarakat Aceh, ialah bagian tak terpisahkan dari rumah keacehan. Bahkan, Islam telah menjadi driving force bagi pahit getir perjuangan masyarakat Aceh selama berabad-abad menghadapi penetrasi kolonialisme. Di sini perlu dicatat bahwa di Sekolah Sukma Bangsa terdapat murid-murid nonmuslim yang berasal dari berbagai suku bangsa.

Sementara itu, keindonesiaan ialah rumah bersama yang sejak zaman perjuangan kemerdekaan telah hadir di Aceh. Cita-cita akan rumah kebangsaan, misalnya, ini telah melahirkan patriotisme masyarakat Aceh yang tiada bandingannya. Dalam konteks Sekolah Sukma Bangsa, separatisme yang sempat melanda Aceh lebih dilihat sebagai perjuangan bagi keadilan sosial sebagai sesuatu yang wajar dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sejauh yang saya tahu, pembangunan dan pengelolaan ketiga aspek ini di Sekolah Sukma Bangsa tidak saja telah melahirkan tradisi toleransi yang kuat, tetapi juga memfasilitasi perkembangan daya fleksibilitas pada murid-murid. Seperti kita tahu, daya fleksibilitas ialah salah satu keterampilan yang menjadi prasyarat utama bagi kehidupan yang baik di abad ke-21 ini.

BERITA TERKAIT