28 February 2020, 05:35 WIB

Investasi Farmasi Naik 18,8% dalam 5 Tahun


.(Aiw/Fer/H-1) | Humaniora

KEPALA Badan Pengawas Obat dan Makanan, Penny K Lukito, mengungkapkan, dalam lima tahun terakhir terdapat 40 investasi baru di bidang farmasi. Tujuh belas di antaranya merupakan investasi dari luar negeri dengan 15 perusahaan sudah berproduksi dan 2 sisanya masih dalam proses.

"Ada penambahan 40 investasi, sekarang total sekitar 224. Jadi, ada sekitar 18,8% penambahan investasi di sektor farmasi," kata Penny dalam acara peresmian pabrik PT Sampharindo Retroviral Indonesia di Semarang, Jawa Tengah kemarin.

Pembangunan dan pengembangan industri farmasi ini sesuai dengan kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Rencana Induk Pembangunan Nasional (Ripin) 2015-2035, yakni salah satu industri yang menjadi perhatian ialah industri farmasi, kosmetik, dan makanan. Hal ini juga sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi yang diharapkan akan terus mendorong dunia usaha untuk mengembangkan inovasi dan daya saing di pasar internasional.

Penny menjelaskan upaya meningkatkan investasi di bidang farmasi dalam tiga tahun terakhir Badan POM telah melakukan berbagai perbaikan tata laksana pelayanan publik, termasuk efisiensi pengawasan pre-market dan peningkatan efektivitas pengawasan post-market, baik melalui upaya deregulasi, simplifikasi proses registrasi dan sertifikasi fasilitas, maupun pembinaan melalui pendampingan. Selain itu, Badan POM memberikan penghargaan berupa insentif percepatan proses sertifikasi fasilitas dan produk serta inisiasi B to B meeting untuk peluang ekspor bagi pelaku usaha yang melakukan inovasi.

Secara terpisah, Menristek/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro mengatakan upaya meningkatkan inovasi mesti terjalin sinergi yang positif dengan triple helix yang mencakup akademisi, pelaku bisnis, dan pemerintah. "Dalam sinergi ini masih ditemui kendala keterlambatan pertumbuhan industri, khususnya industri alat kesehatan dan obat di Indonesia," katanya seusai diskusi Sinergi Triple Helix Bidang Kesehatan dan Obat di ruang senat akademik Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.(Aiw/Fer/H-1)

BERITA TERKAIT