27 February 2020, 22:45 WIB

Penembakan Massal Terulang di AS


MI | Internasional

SEORANG pria bersenjata menembak mati lima rekan kerjanya di kompleks pembuatan bir Molson Coors di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat pada Rabu (26/2) waktu setempat.

Kelompok riset Gun Violence Archive menyatakan kasus itu adalah yang terbaru dalam daftar panjang kekerasan terkait senjata di AS. Di tahun 2019, terjadi rekor 417 penembakan massal di negara itu.  Kepala polisi setempat, Alfonso Morales mengatakan petugas menemukan tersangka, seorang pria lokal berusia 51 tahun, tewas akibat luka tembak yang tampaknya dilakukan sendiri. Sedangkan Wali Kota Milwaukee, Tom Barrett mengatakan lima orang lainnya, semua pekerja di fasilitas tersebut, tewas. “Ini adalah tragedi yang amat buruk bagi kota kami,” kata Barrett, Kamis (27/2).

Presiden Donald Trump memberikan pernyataan resmi pertama mengenai tragedi tersebut.
“Seorang pembunuh jahat menembaki pabrik pembuatan bir Molson Coors, merenggut nyawa lima orang, beberapa terluka parah,” kata Trump dalam konferensi persnya.

Media AS termasuk ABC News dan afiliasi Fox setempat melaporkan penembak telah dipecat pada hari sebelumnya dari perusahaan bir yang memproduksi merek Coors dan Miller tersebut.

Afiliasi CBS lokal mengatakan penembak itu tampaknya telah mencuri kartu nama kar­yawan lain, kemudian kembali ke kompleks kantor dengan senjata.

Namun, The New York Times mengutip pernyataan Gwen Moore, seorang politisi Demokrat yang distriknya termasuk Milwaukee, bahwa pria bersenjata itu adalah seorang karyawan yang berseragam.

Molson Coors, sebuah perusahaan Kanada-AS, mengatakan pihaknya bekerja sama dengan kepolisian untuk mengungkap tragedi yang terjadi. “Prioritas utama kami adalah karyawan kami,” katanya.

Hingga tahun lalu perusahaan tersebut dikenal sebagai MillerCoors. Pada Oktober, perusahaan pembuatan bir tersebut mengalami restrukturisasi besar dan resmi mengubah namanya menjadi Molson Coors Brewing Co.
Kantor pusatnya di Amerika Utara juga pindah dari Denver ke Chicago dan memindahkan ratusan pekerjaan kantor ke Milwaukee. (AFP/Nur/X-11)

BERITA TERKAIT