27 February 2020, 17:48 WIB

Spritualitas Tubuh Melati Suryodarmo


Fathurrozak | Weekend

MELATI Suryodarmo ialah salah satu seniman yang bergiat pada fokus cabang seni performa atau performance art. Dalam kurun dua dekade berkeseniannya, kini ia berpameran tunggal di Museum Macan.

Memamerkan seni performa, tentu berbeda dengan seni rupa secara general. Atau, seni pertunjukan pada lazimnya. Saksi obyek (object witness) menjadi penting kehadirannya.

Untuk itu, dalam pameran tunggal bertajuk 'Why Let The Chicken Run?' Melati menghadirkan obyek-obyek yang pernah ia gunakan untuk seni performance-nya, seperti kandang ayam, rambut (untuk karya The Promise-2002), atau bola, dan kursi yang menggantung di dinding (untuk karya The Black Ball-2005).

Why Let the Chicken Run?’ melacak praktik artistik Melati dengan meng- hadirkan karya-karyanya yang berdurasi panjang. Karya-karya berdurasi panjang Melati dalam pameran ini berdurasi mulai dari tiga hingga dua belas jam. Melalui karya-karya seperti I’m A Ghost in My Own House (2012) (performans selama duabelas jam) dan The Black Ball (2005) (dilakukan selama empat hari berturut-turut dengan durasi antara delapan hingga sepuluh jam setiap harinya), sang seniman menantang ketahanan tubuh baik secara fisik maupun psikologis, dan berada dalam pencarian kesadaran spiritual yang lebih dalam.

"Dalam konsep waktub erdurasi 12 jam, itu ada proses. Memberi ruang kepada suatu proses. Penting untuk hadir bersama pemikiran dan tubuh melalui karya performance. Untuk menekankan bahwa ada perubahan, prosesnya secara organik, energi yang bergerak, pesan yang muncul dari tubuh, ada puitik, narasi, imajinasi yang bisa dikembangkan masing-masing," papar Mel sesaat sebelum media preview pameran 'Why Let The Chicken Run?' di Museum Macan, Jakarta Barat, Rabu (26/2).

Lewat seni pertunjukan, tubuh ia posisikan sebagai subjek, bukan sebagai objek yang memiliki titik akhir. Ia sendiri dulunya tak pernah berpikir sedetail ini, namun lebih memprediksi bahwa tidak ada posesivitas keduniawian yang abadi terhadap sebuah objek, karena hidup yang juga fana, sehingga perlu melihat sejauh mana gagasan dalam seni bisa kekal dan bertahan.

Beberapa karya yang dipamerkan, juga menggunakan para 'aktor' untuk menyuguhkan karya. The Black Ball, misalnya, pada saat media preview, seorang perempuan mengenakan daster hijau memegang bola hitam. Duduk di kursi yang menggantung. Serupa dokumentasi yang dilakukan Mel pada 2005. Atau, Sweet Dreams Sweet (2003), yang mengerahkan sekumpulan orang berstelan putih-putih dan menutup seluruh wajah mereka dengan kain putih. Di antara kerumunan kelompok penampil itu, ada beberapa ember.

Meski menggunakan 'aktor' dalam menampilkan karya performance-nya, Mel menyebut pendekatannya berbeda dengan yang dilakukan sutradara dalam pentas teater, atau koreografer dalam tari, meski Mel juga seorang pencipta tari.

"Tidak untuk akting, tapi untuk mengalami gagasan ke dalam tubuhnya. Tidak hanya koreo harus geraknya seperti apa. Tapi pengenalan bagaimana memasuki performance. Melihat seni ini yang paling penting ialah memahami suatu pengalaman dan peristiwa terjadi pada saat itu, di ruang itu bersama tubuh yang melakukan. Artinya, seni performa juga sangat radikal, karena menjadi puncak dari nilai seni yang saat itu terjadi. The most precious moment," lanjut Mel.

Ciri karya-karya performa Melati, selain durasi yang panjang, juga ialah bagaimana ia merespons isu sosial-politik. Mel membahasakan ke dalam gerak tubuh yang nonverbal di permukaan. Ia menggali jauh ke dalam akar permasalahan. Why Let The Chicken Run? (2001) yang dipengaruhi oleh performans Death of the Chicken oleh Ana Mendieta, bisa ditangkap sebagai suatu refleksi pada hasrat-hasrat manusiawi.

"Bagi saya berpikir secara isu politis- sosial, bagaimana kemudian memasuki dan membahasakan pemikiran dalam konteks. Saya responsif, merespons keadaan temporer. Namun, mendalam mencari apa sebabnya?"

Pameran tunggal Melati Why Let The Chicken Run? juga bersanding dengan pameran milik seniman Jerman Julian Rosefeldt, Manifesto. Instalasi 13 layar yang menampilkan monolog Cate Blanchett ke dalam 12 karakter tanpa nama. Dialog-dialog dalam video diambil dari 13 manifesto berbagai disiplin. Setelah sebelumnya Julian menyeleksi dari total 54 manifesto. Kedua pameran ini akan berlangsung hingga Mei 2020. (M-4)

BERITA TERKAIT