27 February 2020, 18:05 WIB

Dampak Korona, Indeks Sudah Ambles 12% dari Awal Tahun


Despian Nurhidayat | Ekonomi

Dampak negatif akibat virus Korona memukul kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia.
Kemarin, indeks turun tajam  ke  2,63% ke level 5.539,38 poin. Dengan demikian, IHSG dikatakan sudah melemah sebesar 12,07% secara year to date (ytd).

Direktur Utama BEI (Bursa Efek Indonesia) Inarno Jayadi mengungkapkan  ada ketakutan atau kepanikan dari pasar atas fenomena  virus korona.

"Kalau saya lihat dampak korona itu cukup besar. Memang ini merupakan kepanikan dunia terhadap virus tersebut. Ternyata memang yang baru mulai itu ada di Italia dan Iran yah. Korea Selatan juga banyak yang jadi korban," ungkap Inarno kepada Media Indonesia, Kamis (27/2).

Lebih lanjut, Inarno mengatakan bahwa saat ini korban dari virus korona sudah merebak ke mana-mana. Bahkan dia menerangkab sejak 26 Februari 2020 sudah sebanyak 81.000 orang tertular akibat virus tersebut.

Hal ini menyebabkan kondisi yang pada awalnya dianggap endemi tapi sudah menjadi pandemi dan telah menular secara masif. Inilah yang menyebabkan bursa ikut mengalami dampak yang signifikan.

"Jadi yang sebelumnya kita berpikir itu bisa di isolated di Tiongkok, namun kita lihat ini udah keluar Tiongkok bahkan jumlah korbannya sangat banyak. Jadi ini kalau orang bilang tadinya epidemi sekarang pendemi dan sudah masif. Ini tercermin di index termasuk indeks kita," lanjutnya.

Meskipun demikian, Inarno tak memungkiri dampak dari internal atau dalam negeri juga ikut menyebabkan penurunan. Salah satu diantaranya ialah kasus Jiwasraya yang sampai saat ini belum usai.

Berbicara mengenai pemulihan, Inarno pun tak bisa memastikan kapan bursa akan kembali dalam keadaan normal. Hal ini pun terlihat dari penurunan yang terjadi secara perlahan sebelum hari ini.

Belum lagi beberapa negara juga ikut terkena dampak. Dia mengambil contoh Jepang yang mengalami penuruan sebesar 2,32% dan lainnya. Tapi Inarno tak menampik bahwa beberpa negara di kawasan Asia Tenggara memiliki penurunan yang tidak signifikan.

"Saya nggak bisa pastikan kapan membaik karena beberapa hari belakangan juga turun luar biasa," pungkasnya. (Des/E-1)

BERITA TERKAIT