27 February 2020, 06:50 WIB

Perketat Observasi Jilid II


Atalya Puspa | Humaniora

PENYEBARAN virus korona baru (covid-19) mulai memasuki gelombang kedua. Dalam fase itu, virus tidak hanya menyebar di wilayah Wuhan, Tiongkok, tetapi juga telah muncul episentrum baru di luar Tiongkok.

Gelombang kedua penyebaran covid-19 pun berbeda dengan penyebaran yang terjadi pada gelombang pertama. Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Pembangunan dan Pembiayaan Kesehatan, Alexander K Ginting, menyebut pada tahap ini virus kian tidak menampakkan gejala. Orang yang terjangkit virus bahkan tak menyadari sehingga secara aktif malahan menyebarkan ke lingkungan sekitar.

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Pulau Sebaru Kecil yang menjadi lokasi observasi 188 WNI kru kapal World Dream di Kepulauan Seribu, kemarin.

 

Dalam mengantisipasi perkembangan itu, pemerintah pun meningkatkan kewaspadaan. Penanganan individu ataupun kelompok yang terduga rawan terpapar virus pun kian diperketat. Salah satu bentuknya dilakukan terhadap 188 WNI yang kemarin dievakuasi dari kapal pesiar Dream World di Selat Durian, Kepulauan Riau.

Berbeda dengan observasi jilid I yang berlangsung di Natuna, proses observasi jilid II dilakukan dengan pendekatan public health. Pemeriksaan dan pengambilan langkah awal untuk mencegah sebaran virus dilakukan sangat intensif.

"Nanti di Pulau Sebaru mereka tinggal di klaster-klaster, dibagi laki-laki dan perempuan. Mereka akan diperiksa fisiknya dan diperiksa ada gejala atau tidak. Kalau ada, akan dipisahkan antara gejala negatif dan positif. Nanti semua diperiksa, diambil sampel dahak dari tenggorokan untuk membuktikan negatif atau positif," kata Alex, kemarin.

Kementerian Kesehatan pun menambah jumlah dokter selama observasi di Pulau Sebaru Kecil. "Kalau kemarin (di Natuna) hanya 25 orang, saat ini 39," kata Kepala Pusat Krisis Kementerian Kesehatan, Budi Sylvan, kemarin.

Menurut Budi, penambahan jumlah dokter karena Indonesia tidak mau kecolongan. Meski ratusan WNI itu sudah dinyatakan sehat, observasi ketat tetap dijalankan.

 

Hati-hati

Reporter Metro TV Mohammad Reysa yang mengikuti jalannya evakuasi dari KRI dr Soeharso di Selat Durian, Kepulauan Riau, kemarin, melaporkan proses evakuasi di dek A KRI itu berjalan lancar. Kadispen TNI-AL, Laksamana Pertama M Zaenal, memimpin langsung evakuasi.

"Prosesnya sangat bagus, cepat, sangat kooperatif. Kita juga didukung tim medis Kementerian Kesehatan, Kantor Kesehatan Pelabuhan Batam, dan beberapa unsur KRI Angkatan Laut selama pelaksanaan transfer. Itu untuk meminimalisasi hal-hal yang tidak diinginkan," kata M Zaenal kepada Metro TV. "Insya Allah 28 Februari tiba di Pulau Sebaru."

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyatakan untuk tahap awal pemerintah menjemput 188 ABK World Dream. Selanjutnya dilakukan evakuasi atas WNI ABK kapal Diamond Princess yang kemarin masih berada di Yokohama dan terus dilakukan negosiasi dengan pemerintah Jepang.

Kondisi 69 WNI di kapal itu disebut cukup rawan. Dari 78 WNI di kapal itu, sembilan dinyatakan positif covid-19. Pemerintah bertekad memulangkan seluruh ABK WNI dan di lain sisi tetap menjaga 267 juta penduduk dari penularan wabah itu. "Saya pesan ke menteri, ke menko, hati-hati mengalkulasi," tegas Presiden. (Che/Pra/Tri/DW/HT/BB/OL/X-6)  

BERITA TERKAIT