26 February 2020, 22:44 WIB

Kinerja MA Dinilai Menurun Ditinggal Hakim Artidjo


Dhika Kusuma Winata | Politik dan Hukum

KINERJA Mahkamah Agung (MA) dinilai menurun selepas pensiunnya Hakim Agung Artidjo Alkostar yang dikenal kerap memperberat hukuman koruptor.

Pengamat hukum pidana Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar mengatakan, hal itu tercermin dari putusan-putusan MA yang belakangan kerap memberikan diskon kepada terdakwa kasus korupsi.

"Realitasnya kita masih banyak menjumpai situasi hukum yang ironis karena putusan-putusan MA. Contohnya berapa banyak putusan yang mengurangi hukuman kepada para koruptor pascapensiunnya Hakim Agung Artidjo," kata Abdul Fickar saat dihubungi, Rabu (26/2).

MA hari ini menyampaikan laporan kinerja tahunan kepada Presiden Joko Widodo. MA menyampaikan telah menyelesaikan ribuan tunggakan kasus selama 2019 lalu. Dari sekitar 20.275 beban perkara, MA berhasil menyelesaikannya dan kini hanya tersisa 217 perkara.

Baca juga : MA Bantu Pertumbuhan Ekonomi lewat Mekanisme Gugatan Sederhana

Abdul Fickar menilai ukuran kinerja MA semestinya tidak hanya sekadar capaian kuantitas. Ia menyatakan putusan-putusan yang dihasilkan MA semestinya juga dinilai dengan ukuran penciptaan kepastian hukum dan pemenuhan rasa keadilan masyarakat.

"Ukurannya seharusnya apakah putusan-putusan pengadilan telah memberi kepastian bagi keamanan berusaha di Indonesia, apakah telah menghukum secara adil para penjahat yang menggerogoti uang negara, uang rakyat," jelasnya.

Dalam konteks kekuasaan kehakiman, imbuhnya, MA berperan penting dalam memberikan keputusan sebagai solusi dari perselisihan di masyarakat dan pelanggaran hukum pidana maupun adminstratif. Karena itu, ujarnya, keadilan dan kemanfaatan putusan harus benar-benar dirasakan masyarakat.

"Karena itu, ukuran capaiannya tidak melulu harus diukur secara kuantitatif, tetapi juga lebih signifikan secara kualitatif," tukasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT