27 February 2020, 05:00 WIB

Nadine Chandrawinata Menciptakan Mandor Muda Lingkungan


Fathurrozak | Humaniora

Mendirikan Sea Soldier, Nadine bertekad mendorong munculnya para pejuang lingkungan.

NADINE Chandrawinata dan olahraga laut seperti tidak terpisahkan. Setelah memenangi ajang Puteri Indonesia 2005, Nadine kemudian dikenal dengan hobinya bertualang dan menyelam.

Meski begitu mencintai bawah laut, pada 2015, perempuan berdarah Indonesia-Jerman ini sempat menghentikan hobinya. Bukan karena pengalaman buruk, perempuan kelahiran Hannover, 8 Mei 1984, ini merasa resah dengan kerusakan lingkungan yang ia lihat di berbagai daerah.

Semenjak menekuni profesi traveler dan diver pada 2006, Nadine memang sudah mendokumentasikan kondisi lingkungan baik di darat maupun di laut. Namun, ia merasa butuh membuat gerakan lain untuk meningkatkan kesadaran masyarakat soal lingkungan.

"Kalau kita travelling, kan melihat sebab-akibatnya. Merasakan akibatnya daerah menjadi lebih kotor atau berantakan. Muncul ketidakseimbangan. Di bawah laut mulai bleaching. Itu yang aku tangkap semua, dan menjadi evaluasi diri," ungkap Nadine saat ditemui dalam wawancara bersama Media Indonesia pada Rabu (12/2), di kawasan Jakarta Selatan.

Selain menjadi evaluasi diri, Nadine pun merasa perlu memiliki suatu gerakan yang dapat membantu menanggulangi permasalahan lingkungan di daerah-daerah yang ia kunjungi ataupun sebaliknya juga, membantu menjaga keasrian wilayah yang masih baik. "Saat kembali ke Jakarta, saya merasa tidak ada lagi 'mandor' untuk mengontrol keseimbangan lingkungan di daerah-daerah yang sudah saya kunjungi," tutur istri dari aktor Dimas Anggara ini.

Keinginannya itu disambut sahabatnya, Dinni Septianingrum. Jadilah pada 25 Maret 2015, mereka meluncurkan gerakan Sea Soldier.

Kemudian memiliki yayasan, gerakan Sea Soldier itu berinti pada pembentukan atau penjaringan anak-anak muda untuk menjadi prajurit lingkungan, di daerahnya masing-masing. Untuk menjaga dan menjadi pemimpin di lingkungannya. "Mereka (anak muda) yang mengajukan diri ke kami, bukan dengan cara penunjukan. Dan kami ingin melihat sejauh mana keterlibatan untuk lingkungan. Karena juga butuh lebih banyak tangan untuk bergerak dan menjaga. Bukan sekadar aksi, melainkan secara keberlanjutan dalam mengurusinya," tutur Nadine.

Dari situ pula, Nadine menjelaskan, jika kegiatan Sea Soldier akan dapat menjadi barometer perubahan lingkungan. Hal inilah yang tercipta ketika masyarakat luas diajak bergerak dan bukan hanya mengandalkan satu sosok.

Fokus di darat

Setelah lima tahun berjalan, kini Sea Soldier ada di 14 daerah. Empat program utama mereka adalah menanam sebagai bentuk melawan kepunahan, mangrove untuk pencegahan abrasi, bersihkan warungku, dan menghentikan praktik sirkus lumba-lumba keliling.

Nadine menjelaskan jika kegiatan mereka bukan hanya di lautan sebab permasalahan lingkungan memang sebagian besar berasal dari darat. "Fokusnya justru di daratan. Memperjuangkan sebagai negara kelautan, juga agar bisa diakui sebagai negara yang bersih dan peduli pada sampah kita sendiri. Juga peduli pada pola hidup kita," ungkapnya.

Dilihat dari akun Instagram @seasoldier_, kegiatan mereka tampak cukup menarik perhatian karena dapat menraik pengikut hingga 35,8 ribu akun. Namun, jumlah pemimpin 'prajurit laut' yang terdaftar diperkirakan mencapai 400 orang.

Salah satu program yang kini sedang rajin digenjot adalah Bersihkan Warungku. Sesuai namanya, program yang diluncurkan pada pertengahan November 2019 itu adalah pemilahan sampah di warung-warung. Dengan begitu, warung tersebut mendapat tempat sampah organik dan anorganik. Selanjutnya, para Sea Soldier memberikan pendampingan dan edukasi seputar pengolahan sampah di warung itu selama enam bulan.

"Yang menentukan warungnya itu Sea Soldier regional. Mereka yang tunjuk warungnya mana saja yang menjadi sasaran kampanye. Kebanyakan, pegang dua atau tiga warung. Kami memang tidak fokus pada plastik, tetapi pada pemilahan sampah. Lebih pada sisi manajemen sampah, juga untuk lebih bijak pada plastik," ungkap Nadine.

Wujud riil kegiatan itu pun terlihat di akun medsos mereka. Seperti yang terlihat dilakukan Sea Soldier Balikpapan, pada unggahan 2 Februari 2020, mendampingi beberapa warung berbasis kuliner di sana. Sementara itu, Sea Soldier Banyuwangi memilih memberikan edukasi ke para pengelola kedai makanan di wilayah Pantai Grand Watu Dodol.

Hingga akhir tahun, Nadine mengungkapkan jika gerakan itu sudah menyasar 30 warung. Mereka tersebar di Bandung, Banyuwangi, Gorontalo, Bali, Balikpapan, Maluku Utara, Lombok, Pontianak, Sulawesi Utara, Medan, Pacitan, Tasikmalaya, Surabaya, dan Jakarta.

Kendala dan kisah sukses

Di sisi lain, Nadine mengaku jika kesadaran lingkungan tidak bisa cepat dibangun. "Kendala utamanya ialah keengganan banyak pemilik warung atau kedai, tapi setelah (Sea Soldier) datang secara intensif, lama-lama sama belajar. Akhirnya mulai ada perubahan," tuturnya.

Meski ada program yang berjalan lambat, ada pula yang telah menunjukkan sukses. Berkat kegigihan kampanye dari berbagai pihak pula, sirkus lumba-lumba akhirnya dihentikan izinnya oleh pemerintah pada 5 Februari 2020.

"Banyak yang tidak tahu dampak dari sirkus keliling lumba-lumba bisa membunuh mereka. Ini pelan-pelan kita angkat, bersama dengan teman-teman lain. Akhirnya pada 5 Februari sirkus lumba-lumba keliling dinyatakan ilegal dan dilarang," sambung Nadine. Dengan keberhasilan ini pula, program menghentikan sirkus lumba-lumba kini telah tuntas dan hanya dilanjutkan dengan gerakan edukasi.

Seperti halnya gerakan lain, Sea Soldier diakui butuh pendanaan yang cukup untuk dapat berjalan. Tidak kurang ide, ia membuat sumber pendanaan independen dengan cara membuat gelang keanggotaan.

Meski begitu, Nadine tidak hanya mengejar nominal. Sebab itu, prinsip peduli lingkungan tetap diutamakan dengan cara para calon anggota harus bisa menunjukkan keterlibatan di gerakan lingkungan oleh si pembeli.

Setelah dua berjalan, barulah gerakan itu mendapatkan donatur.

"Sumber (pendanaan) datang dan pergi. Dalam arti, ketika punya kegiatan atau kampanye, sponsor berasal dari perusahaan, sebagai bentuk tanggung jawab sosial mereka. Donatur juga berasal dari dalam dan luar negeri. Jadi setiap kerja sama dengan para donatur memiliki jangka waktu kerja sama berbeda-beda. Dari awal, kami berbasis kesukarelawanan, sampai saat ini juga masih begitu," jelas Nadine.

Meski kini pusat kendali ada pada Nadine dan Dinni, mereka tidak menutup peluang para anggota di daerah memiliki inisiatif pendekatan dalam program-program lingkungan. Justru bagi Nadine, keberhasilan di masa depan adalah ketika Sea Soldier telah melahirkan anak-anak muda yang sukses dengan inisiatif gerakan lingkungan masing-masing walau tidak besar. (M-1)

BERITA TERKAIT