26 February 2020, 20:57 WIB

KPK Cecar Hasto dan Satpamnya Soal Rekaman Perkacapan


Dhika kusuma winata | Politik dan Hukum

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan petugas keamanan di kantor Hasto bernama Nurhasan. Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan penyidik mengonfirmasi terkait bukti percakapan elektronik.

"Pemeriksaan hari ini lebih fokus kepada konfirmasi bukti-bukti dari barang-barang elektronik. Detail isinya apa percakapan dari barang bukti elektronik tersebut kami tidak bisa menyampaikan secara detail," kata Ali Fikri di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (26/2).

KPK memeriksa Hasto dan Nurhasan sebagai saksi untuk tersangka mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan. Nurhasan merupakan satpam di kantor Hasto di Jalan Sutan Syahrir Nomor 12 A, Menteng, Jakarta Pusat.

 

Baca juga: Satpam Kantor Hasto Bungkam Seusai Diperiksa KPK

 

Ali menambahkan dari serangkaian proses penyidikan yang sudah berjalan, KPK mendapati bukti percakapan elektronik terkait kasus tersebut. Meski belum bisa diungkap saat ini, Ali menyampaikan detail percakapan tersebut akan dibuka di persidangan kelak.

"Nanti di persidangan tentu akan dibuka seluas-luasnya oleh jaksa penuntut umum yang akan menyidangkan perkara," imbuhnya.

Adapun Hasto mengaku dalam pemeriksaannya ia menerangkan keputusan partai dalam proses pengajuan pergantian antarwaktu (PAW) untuk Harun Masiku sudah berbekal fatwa dari Mahkamah Agung. Ia mengaku menerangkan 14 hal kepada penyidik namun enggan membeberkannya.

"Semua berangkat pada PDIP yang memiliki legalitas berdasarkan undang-undang dan juga dikuatkan keputusan MA dan fatwa MA terhadap penetapan calon anggota legislatif terpilih. Intinya partai berdaulat (menentukan PAW). Sebagai Sekjen saya menjalankan keputusan itu dengan sebaik-baiknya," ucap Hasto usai diperiksa penyidik.

Sementara itu, Nurhasan enggan berkomentar soal pemeriksaannya. Ia juga tidak mau menanggapi seputar kabar dirinya mengantar tersangka caleg PDIP Harun Masiku ke Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta saat KPK melakukan serangkaian operasi tangkap tangan pada Januari tahun ini.

"Tanya saja ke dalam (penyidik). Tanya ke KPK," ucap Nurhasan.

Dalam serangkaian OTT pada 8 Januari lalu, tim KPK diduga melakukan pengintaian di sekitar PTIK di bilangan Melawai, Jakarta Selatan. Ditengarai, Harun Masiku turut berada di sana diantar oleh Nurhasan.

Dalam kasus itu, KPK menetapkan empat tersangka. Sebagai penerima ialah Wahyu Setiawan selaku komisioner KPU, Agustiani Tio Fridelina selaku orang kepercayaan Wahyu yang juga mantan anggota Badan Pengawas Pemilu.

Adapun sebagai pemberi yang ditetapkan tersangka ialah politikus PDIP Harun Masiku dan Saeful Bahri yang juga pernah menjadi caleg PDIP. Hingga kini, Harun masih berstatus buron. (OL-8)

BERITA TERKAIT