27 February 2020, 01:50 WIB

Wregas Bhanuteja Perbanyak Restorasi Film


Fathurrozak | Hiburan

RESTORASI suatu film lawas menjadi penting dilakukan sebagai upaya menyelamatkan aset. Terlebih, restorasi film dipandang sebagai jalan untuk pengarsipan rekaman sejarah melalui dunia yang digambarkan dalam sinema. Belum lama ini ditayangkan film restorasi asal Italia, La Dolce Vita, garapan maestro Federico Fellini.

Selain La Dolce Vita, film 8 1/2 milik Fellini yang telah direstorasi juga ikut ditayangkan. Penayangan kedua film restorasi tersebut sebagai tribut seabad kelahiran Fellini, yang masuk ke rangkaian Plaza Indonesia Film Festival (PIFF) 2020.

Menurut sineas Wregas Bhanuteja, 27, restorasi film penting dilakukan sebagai salah satu cara generasi muda, baik yang menekuni perfilman maupun publik secara luas untuk mengetahui sejarah lampau.

"Film menjadi penanda perkembangan bahasa sinema. Karya-karya seperti milik Fellini menjadi penting untuk diketahui generasi muda agar juga mengetahui situasi kemanusiaan dan bahasa sinema saat itu," ungkapnya saat dijumpai di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (24/2).

Proses restorasi film dengan medium seluloid ke format digital akan memberikan kualitas gambar yang lebih nyaman ditonton publik sehingga penonton juga bisa lebih fokus pada cerita dan analisis sinematografi sang sutradara dan sinematografer.

"Penting direstorasi karena juga untuk belajar sejarah. Tidak melupakan yang pernah dibuat oleh para maestro dan memperbarui menjadi sesuatu yang lebih baru," sambung Wregas.

Restorasi juga ditempuh sutradara asal Hong Kong, Wong Kar-wai. Ia mengumumkan film-filmnya tengah memasuki proses restorasi. Salah satunya ialah In The Mood For Love (2000) yang setelah rampung akan tayang perdana di sesi Cannes Classics pada gelaran Festival Film Cannes 2020.

 

Debut

Di Indonesia, film lawas yang berhasil direstorasi, di antaranya ialah Lewat Djam Malam, Tiga Dara, Pagar Kawat Berduri, Darah dan Doa, serta Bintang Ketjil. Untuk merestorasi suatu film, butuh biaya yang besar. Untuk itu, Wregas menyatakan agar pemerintah mau mengalokasikan bujet restorasi film-film lawas.

"Menurut saya, masih minim (film Indonesia yang direstorasi), terutama arsip penyimpanan kita. Kita berharap dukungan dari pemerintah untuk mau mendigitalisasikan film yang masih dalam bentuk seluloid, yang dibuat sutradara Indonesia dalam tahun 50-an," lanjutnya.

Menurutnya, film-film yang perlu diutamakan untuk direstorasi ialah film yang memberikan momentum atau sebagai monumen penanda pergerakan sinema. Seperti film pertama Usmar Ismail atau film Teguh Karya, juga film-film yang berkompetisi dan diakui secara internasional.

Wregas saat ini tengah mempersiapkan film feature debutnya, yang sebelumnya menggarap dua film pendek yang diakui di tingkat internasional. Prenjak (2016) mendapat penghargaan di Semaine de la Critique, Cannes. Sementara itu, Tak Ada yang Gila di Kota Ini selain meraih Piala Citra, juga tayang di Sundance, dan Festival Film Busan.

"Sedang dalam tahap penulisan untuk film panjang. Setiap hari kami mengembangkan penulisan skenarionya. Harapannya tahun depan sudah bisa keluar. Kalau semua lancar, akhir tahun ini sudah mulai produksi. Ceritanya dari ide orisinal, bukan adaptasi." (H-3)

BERITA TERKAIT