27 February 2020, 00:50 WIB

Mahathir Siap Menjabat Kembali


Nur Aivanni | Internasional

MAHATHIR Mohamad mengusulkan pembentukan pemerintahan bersatu tanpa mengandalkan dukungan partai politik tertentu.

Ini merupakan komentar publiknya yang pertama sejak ia mendadak mundur dari kursi Perdana Menteri Malaysia pada awal pekan ini karena gagal membentuk pemerintahan baru. Tindakan tersebut tak ayal menggegerkan kancah politik di negara tersebut. Mahathir sendiri telah ditunjuk sebagai Perdana Menteri sementara waktu.

“Kita harus kesampingkan dulu partai-partai politik untuk sementara waktu. Kalau didukung, saya akan berupaya membentuk pemerintahan yang inklusif, tidak berpihak pada partai politik manapun. Tapi kalau tidak didukung, saya akan terima siapapun yang terpilih,” kata Mahathir dalam pidato yang disiarkan televisi di Malaysia, kemarin.

Menurut Mahathir, berdasarkan dukungan yang diterimanya, belum waktunya baginya untuk meninggalkan jabatan.

“Tindakan saya mungkin membuat warga marah, tapi saya  ingin yang terbaik untuk Malaysia,” ungkap Mahathir.

Politisi berusia 94 tahun itu juga menyatakan dirinya mundur karena tidak siap untuk bekerja sama dengan partai United Malays National Organisation (UMNO) yang dipimpin oleh mantan PM Najib Razak.

Najib kini tengah diadili akibat dugaan keterlibatannya dalam skandal korupsi dana negara 1MDB yang merugikan Malaysia hingga miliaran dolar AS.


Anwar didukung

Faksi-faksi politik di Malaysia kini tengah berebut posisi setelah sekelompok politisi dari koalisi yang berkuasa maupun dari kubu oposisi bergabung. Mereka ingin membentuk pemerintahan baru sekaligus mencegah naiknya Anwar Ibrahim yang sejak semula diposisikan sebagai pengganti Mahathir.

Di sisi lain, sekelompok anggota parlemen dari koa­lisi Pakatan Harapan, yang menjadi pemenang pe­milu secara mengejutkan di 2018, tanpa diduga-duga telah mendukung Anwar sebagai pemimpin baru Malaysia.

Dukungan dari sejumlah politisi tersebut disampaikan oleh Anwar dalam konferensi pers tidak lama setelah pidato Mahathir usai.

Anwar menyatakan koalisinya telah mengundang Mahathir bertemu pada Selasa (25/2) malam. Karena Mahathir tidak kunjung datang, koalisi itu bersepakat mengajukan Anwar sebagai kandidat mereka.

“Kami tetap bersema­ngat untuk mempertahankan mandat dari rakyat Malaysia sejak terjadinya upaya penggulingan pemerintahan pada pekan lalu. Kini terserah pada Raja Malaysia untuk memutuskan soal ini,” ungkap Anwar.

Ia juga mendesak semua pihak untuk menerima dan menghormati keputusan yang akan diumumkan oleh kerajaan.

Berdasarkan aturan di Malaysia, perdana menteri ditunjuk oleh raja. Sultan Abdullah sendiri telah mewawancarai seluruh anggota parlemen sejak awal pekan ini untuk mengetahui kandidat pilihan mereka.

Seorang kandidat sedikitnya harus mendapat dukungan dari 112 anggota parlemen. Belum jelas apakah Mahathir atau Anwar dapat mencapai angka tersebut sehingga pilihan berikutnya adalah melaksanakan pemilihan umum.

Bridget Welsh selaku analis Hu Feng Centre for East Asia Democratic Studies menyatakan Mahathir hanya punya waktu singkat untuk membentuk pemerintahan sebelum muncul desakan dilaksanakannya pemilu. (AFP/Newstraittimes/X-11)

BERITA TERKAIT